**Senja di Paviliun Anggrek** Hujan menggigil membasahi Paviliun Anggrek yang sunyi. Dari balik tirai bambu, sosok Lin Wei mengamati siluet punggung seorang pria yang berdiri membelakanginya. Punggung itu, dulu adalah tempatnya bersandar, tempat ia merasa aman dan dicintai. Sekarang, punggung itu adalah simbol pengkhianatan yang tak terampuni. "Jiang Chen," lirih Lin Wei, suaranya nyaris tenggelam dalam gemericik hujan. Jiang Chen berbalik. Matanya, yang dulu memancarkan kehangatan padanya, kini redup dan penuh penyesalan. "Wei'er…" Bayangan mereka berdua yang terpantul di lantai paviliun tampak patah dan terpisah. Cahaya lentera yang tergantung di langit-langit, nyaris padam, seolah tak sanggup lagi menerangi kenangan manis yang kini terasa pahit. Lima tahun telah berlalu sejak malam ****mengerikan*** *itu*. Malam di mana Lin Wei menemukan Jiang Chen bersama wanita lain. Malam di mana dunianya runtuh. "Kau tahu mengapa aku memintamu datang ke sini, Jiang Chen?" tanya Lin Wei, suaranya dingin seperti es. Jiang Chen mengangguk pelan. "Aku tahu… aku tahu aku telah menghancurkanmu." "Menghancurkanku?" Lin Wei tertawa sinis. "Kau hanya membangunkanku. Membangunkanku dari mimpi indah tentang cinta sejati. Kau mengajariku bahwa ***kepercayaan*** adalah lelucon paling kejam." Hujan semakin deras. Lin Wei melangkah mendekat. Wajahnya, yang dulu dipenuhi senyum, kini keras dan tanpa ekspresi. "Apakah kau ingat, Jiang Chen? Kau berjanji akan selalu melindungiku. Kau berjanji akan selalu mencintaiku." "Aku… aku menyesal, Wei'er. Aku tahu kata maaf tidak akan cukup, tapi…" Lin Wei mengangkat tangannya, menghentikan ucapan Jiang Chen. "Maaf? Apakah maaf bisa mengembalikan waktu? Apakah maaf bisa menghapus rasa sakit?" Ia mendekat lagi, semakin dekat, hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa inci. Mata Lin Wei berkilat-kilat. "Selama lima tahun ini, aku hidup dalam mimpi buruk. Aku membiarkan diriku dilahap oleh amarah dan dendam. Aku membiarkanmu berpikir bahwa aku hanya seorang wanita yang patah hati dan lemah." Jiang Chen terdiam, menatap Lin Wei dengan tatapan bingung. "Tapi kau salah, Jiang Chen. Selama ini, aku merencanakan ini. Setiap tetes air mata, setiap malam tanpa tidur, setiap detik penderitaan… semuanya ku gunakan untuk menyiapkan ****balas dendam*** *ini*." Senyum tipis, sangat tipis, terukir di bibir Lin Wei. Cahaya lentera yang semakin redup menerangi wajahnya yang ****misterius***. "Kau tahu, Jiang Chen… anak yang kau kira anak dari wanita itu… *adalah anak kita*."
You Might Also Like: Top Tangisan Yang Tertahan Di Balik Doa
