Baiklah, ini dia kisah dracin tragis yang kau minta: **Kau Berkata Akan Kembali, Tapi Perang Lebih Cepat Menjemputmu** Gerimis meratapi Kota Chang'an yang berdebu. Di tengah hiruk pikuk persiapan perang, Linghua, dengan gaun sutra merah yang kontras dengan awan kelabu, berdiri di depan gerbang istana. Matanya menyiratkan badai yang lebih dahsyat dari perang yang akan datang. Dia menatap punggung seorang pria yang mengenakan baju zirah emas, punggung yang sangat familiar – Zhong Wei. "Wei Gege," bisiknya, suara seraknya tertelan angin. Zhong Wei, panglima besar kekaisaran, berbalik. Senyum tipis mengembang di bibirnya, senyum yang dulu selalu membuat jantung Linghua berdebar. Sekarang, senyum itu terasa seperti duri. "Linghua," balasnya, suaranya dalam dan berat. "Kau datang untuk melihatku pergi?" "Kau *berjanji* akan kembali," Linghua menimpali, nada suaranya datar, tanpa emosi. "Kau bersumpah di bawah pohon sakura kita." Zhong Wei menghela napas. "Perang, Linghua. Janji sering kali hanyut oleh darah." "Atau... **dikhianati** oleh *kebohongan*," Linghua menukas, tatapannya menusuk. Zhong Wei terdiam. Di antara mereka, terbentang jurang yang tak kasat mata. Jurang rahasia. Mereka tumbuh bersama di kuil terpencil di puncak gunung. Linghua, anak angkat kepala kuil, dan Zhong Wei, murid kesayangan. Mereka berlatih pedang di bawah bulan purnama, berbagi mimpi di bawah bintang-bintang. Zhong Wei selalu melindunginya. Mereka bersumpah setia satu sama lain, darah mereka bercampur dalam ritual kuno. Namun, rahasia merayap di antara mereka seperti kabut. Linghua *sebenarnya* adalah putri mahkota dari kerajaan yang ditaklukkan, pewaris terakhir garis keturunan yang hampir punah. Zhong Wei, di sisi lain, adalah putra seorang jenderal pengkhianat, yang membantai keluarga kerajaan Linghua. Zhong Wei *diutus* ke kuil untuk memantau Linghua, memastikan garis keturunannya benar-benar terputus. "Kau tahu, Wei Gege," Linghua melanjutkan, senyum pahit menghiasi bibirnya. "Aku selalu bertanya-tanya... mengapa kau begitu baik padaku? Mengapa kau melindungiku? Apakah itu semua *sandiwara*?" Zhong Wei menggenggam tangannya, erat. "Tidak, Linghua! Aku... aku mencintaimu. Itu bukan kebohongan." "Cinta?" Linghua tertawa hambar. "Cinta macam apa yang dibangun di atas *pengkhianatan* dan *darah*?!" Berita tentang kemenangan Zhong Wei di medan perang datang bagai petir di siang bolong. Setiap kemenangan mengokohkan posisinya, setiap pujian menggerogoti harapan Linghua. Dia tahu, cepat atau lambat, Zhong Wei akan kembali ke Chang'an, dan *rahasia* mereka akan terbongkar. Malam itu tiba. Zhong Wei berdiri di hadapan Linghua, di bawah pohon sakura yang dulu menjadi saksi bisu janji mereka. Tapi pohon itu kini kering, ranting-rantingnya menjulang seperti jari-jari tulang. "Aku kembali, Linghua," kata Zhong Wei, suaranya penuh kemenangan. "Seperti yang kujanjikan." Linghua menghunus pedangnya, matanya menyala dengan amarah yang membara. "Kau kembali untuk *membunuhku*, bukan?" "Aku... aku tidak punya pilihan," Zhong Wei menjawab, nada suaranya perih. "Kaisar tahu segalanya. Dia tahu tentang dirimu, tentang *aku*… tentang masa lalu kita." "Jadi, ini akhirnya?" Linghua bertanya, pedangnya bergetar. "Tidak," Zhong Wei menggeleng, air mata mengalir di pipinya. "Ini pembebasan." Pertempuran mereka berlangsung singkat namun brutal. Dua jiwa yang terikat oleh cinta dan pengkhianatan, menari dalam kematian. Pedang mereka beradu, memantulkan cahaya bulan yang pucat. Di akhir, keduanya tergeletak di tanah, bersimbah darah. Zhong Wei menatap Linghua, senyum pahit menghiasi bibirnya. "Aku... selalu mencintaimu. Tapi aku... *lebih* mencintai negaraku…" Linghua membalas tatapannya, matanya penuh dengan kesedihan yang tak terkatakan. "Aku… seharusnya… membunuhmu… lebih awal…" Dia menghela napas terakhir. Zhong Wei mencoba meraih tangannya, tetapi kekuatannya sudah habis. "Linghua… maafkan… aku…" Tiba-tiba, seorang pria berjubah hitam muncul dari kegelapan. Dia menatap kedua mayat itu dengan tatapan dingin. "Begitulah seharusnya," gumamnya. "Darah pengkhianat harus dibersihkan dengan darah yang lebih besar." Dia mengeluarkan pisau dan menancapkannya ke jantung Zhong Wei. Sebelum kegelapan menelannya, Zhong Wei sempat berbisik, "*Aku… tahu… kaulah… yang… mengkhianati…ku*…"
You Might Also Like: 200 Custom Playing Card Boxes Why Your
