Baiklah, ini dia cerita pendek bergaya dracin dengan permintaan Anda: **Langit yang Tak Lagi Mengenal Dewa** Dentang guqin meliuk-liuk di antara hening malam. Jemari Li Wei, seputih porselen, menari di atas senar, merajut nada-nada *kesunyian* yang menusuk kalbu. Villa megah ini, yang dulu dipenuhi tawa, kini hanya bergaung dengan bisikan angin dan air mata yang tak jatuh. Dulu, Li Wei adalah tunangan sempurna bagi Lin Feng, putra mahkota Kekaisaran Bisnis Lin. Mereka adalah sepasang angsa yang serasi, lambang kesuksesan dan cinta abadi. Namun, badai datang tanpa permisi. Lin Feng, yang *dikaguminya* melebihi mentari, ternyata memiliki hati yang tertambat pada yang lain: Mei Hua, seorang pelayan dengan kecantikan *mematikan*. Pengkhianatan itu seperti racun yang menggerogoti tulang. Li Wei memilih diam. Bukan karena dia lemah, melainkan karena rahasia yang ia genggam. Sebuah rahasia yang lebih besar dari cinta, lebih berharga dari kehormatan. Sebuah rahasia yang melibatkan garis keturunan Lin dan *takdir* seluruh kekaisaran. Ia melihat Lin Feng dan Mei Hua bermesraan, menikmati kemewahan yang seharusnya menjadi miliknya. Ia mendengarkan bisikan-bisikan sinis para pelayan, merasakan tatapan kasihan mereka. Tapi ia *tidak* menangis. Ia hanya menunduk, memetik guqin-nya, dan menyimpan dendamnya dalam alunan nada. Misteri mulai menyelimuti villa. Bunga persik yang selalu mekar di taman tiba-tiba layu. Angka-angka *aneh* muncul di kalender kuno di ruang kerja Li Wei. Bisikan-bisikan yang tak bisa dijelaskan terdengar di tengah malam. Lin Feng, yang awalnya bahagia dengan kekasih barunya, mulai dihantui mimpi buruk. Bisnisnya merosot. Kekayaannya perlahan menguap. Li Wei hanya tersenyum tipis. Ia tahu, ini bukan perbuatan hantu atau kutukan. Ini adalah *konsekuensi* dari pilihan mereka. Rahasia yang ia simpan adalah kunci. Kunci untuk membuka takdir yang telah lama tertutup. Di malam puncak festival musim gugur, Li Wei akhirnya berbicara. Bukan kepada Lin Feng, bukan kepada Mei Hua, melainkan kepada seluruh anggota keluarga Lin. Di bawah sinar bulan purnama, dengan guqin di pangkuannya, ia membongkar semuanya. Rahasia garis keturunan, perjanjian terlarang, dan *takdir* yang seharusnya menjadi miliknya. Lin Feng dan Mei Hua terpaku. Kebahagiaan mereka hancur berkeping-keping. Kekayaan mereka lenyap. Keluarga Lin, yang dulu disegani, kini terhuyung di ambang kehancuran. Li Wei, dengan *tenang*, menyaksikan semua itu. Tidak ada air mata, tidak ada teriakan, hanya tatapan dingin yang menusuk jiwa. Balas dendam Li Wei bukan tentang kekerasan. Ini tentang *memutarbalikkan* takdir. Tentang merebut kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya. Tentang membuktikan bahwa langit yang tak lagi mengenal dewa pun, tetap memiliki hukumnya sendiri. Ia bangun, meninggalkan villa dan semua kenangan, berjalan menuju fajar yang *kelam*. Dan di balik semua kehancuran itu, tersembunyi secarik kertas dengan tulisan tangan: "Benih yang kau tanam, buahnya akan kau petik..."
You Might Also Like: Anime Aesthetic Background Pink And 193
