**Aku Membakar Istana Itu, Tapi Tak Bisa Membakar Rasa Ini** Hujan kota mengetuk jendela apartemenku, ritmenya persis seperti notifikasi LINE yang dulu sering datang dari *dia*. Dulu, setiap dentingnya adalah janji—janji kopi di kedai favorit, janji malam panjang membahas mimpi-mimpi gila, janji yang...palsu. Aku menyesap kopi pahit, aromanya gagal menutupi getir di hatiku. Di layar ponselku, sisa-sisa percakapan kami masih tersimpan rapi. Pesan-pesan yang belum terkirim, kata-kata yang tertahan di ujung lidahku, semua membentuk labirin kenangan yang ingin kubakar habis. Tapi, seperti istana mewah yang berdiri kokoh di tengah badai, rasa ini...tidak bisa hancur. Namanya, Lin Yi, terukir di setiap sudut ingatanku. Senyumnya, suara tawanya, caranya menatapku seolah aku adalah satu-satunya bintang di langit malam Shanghai—semuanya seperti *virus* yang menjalar dalam sistemku. Lalu, tiba-tiba, ia menghilang. Tanpa penjelasan, tanpa salam perpisahan. Hanya *delete account* dan sunyi yang memekakkan telinga. Aku berusaha mencari tahu. Teman-temannya bungkam. Keluarga angkatnya menutup diri. Semua seolah menyembunyikan sebuah *RAHASIA BESAR*. Aku menjadi detektif amatir, menggali informasi dari internet, menyusuri jalan-jalan yang pernah kami lalui bersama. Setiap petunjuk hanya membawa pada kebuntuan, pada rasa kehilangan yang semakin menganga. Lalu, suatu malam, aku menemukan sebuah folder tersembunyi di laptop lamanya. Isinya? Foto-foto dirinya bersama seorang wanita tua. Wanita itu mengenakan kalung permata yang sangat familiar—kalung yang dulu selalu dipakai nenekku, sebelum...sebelum kebakaran yang merenggut nyawanya dan menghancurkan seluruh hidup keluargaku. Semuanya menjadi JELAS. Lin Yi adalah cucu dari pemilik pabrik tekstil yang menyebabkan kebakaran itu! Ia mendekatiku, bukan karena cinta, tapi karena *RAHASIA*. Ia ingin tahu seberapa jauh aku akan mencari keadilan, seberapa besar dendam yang membara dalam diriku. Ia bermain-main denganku, dengan rasa sakitku, dengan harapan-harapanku. Amarahku meledak. Aku ingin berteriak, menghancurkan segalanya. Tapi, aku tahu itu bukan jalanku. Aku bukan orang yang sama seperti dulu. Aku telah belajar dari rasa sakit, belajar untuk menjadi lebih kuat, lebih cerdas. Aku mengirimkan sebuah pesan terakhir padanya. Sebuah foto. Foto dirinya bersama wanita tua itu, dengan lingkaran merah mencolok di sekitar kalung permata. Tanpa kata, tanpa penjelasan. Hanya itu. Keesokan harinya, aku melihat sebuah berita. Pabrik tekstil itu ditutup permanen karena pelanggaran keamanan yang fatal. Reputasinya hancur. Warisannya sirna. Itulah balas dendam lembutku. Bukan dengan api, bukan dengan teriakan, tapi dengan satu kebenaran yang terungkap. Aku memblokir nomornya. Menghapus semua jejaknya dari hidupku. Aku berdiri di balkon, menatap hujan kota yang semakin deras. Senyum tipis terukir di bibirku. Aku telah membakar istana itu, istananya, istana masa laluku. Dan aku akan memulai babak baru, tanpanya. Tapi, kadang, di tengah malam yang sunyi, aku masih bertanya-tanya...apakah rasa ini benar-benar sudah padam?
You Might Also Like: Distributor Skincare Bisnis Sampingan
