Baiklah, inilah kisah dracin fantasi yang Anda minta, berjudul 'Kau Mencintaiku dengan Mata Tertutup, dan Aku Percaya Itu Cinta Sejati': **Kau Mencintaiku dengan Mata Tertutup, dan Aku Percaya Itu Cinta Sejati** Babak I: Bayangan di Atas Danau Lampion Di dunia manusia, Lianhua (莲花), seorang gadis yatim piatu dengan hati selembut sutra, selalu merasa asing. Mimpi-mimpinya dipenuhi dengan **BAYANGAN** yang berbicara, danau yang diterangi Lampion Air yang menari-nari, dan Bulan yang berbisikkan nama-nama yang tak ia kenali. Setiap malam, ia terjaga dengan air mata membasahi pipi, seolah ia merindukan sesuatu yang tak pernah ia miliki. Di dunia roh, ada Kaisar Bayangan, Xingyue (星月), penguasa dunia kegelapan dan mimpi. Ia dikenal kejam, dingin, dan penuh rahasia. Namun, setiap kali Bulan Purnama bersinar, ia akan duduk di tepi Danau Lampion, matanya terpejam, seolah melihat sesuatu yang tak bisa dilihat mata biasa. Ia selalu berkata, "Aku merindukanmu, belahan jiwaku. Kapan kau akan kembali?" Suatu malam, Lianhua meninggal dalam kecelakaan tragis. Dunia meratapi kepergiannya, tetapi di dunia roh, gerbang terbuka lebar. Xingyue merasakan denyut energi yang familiar, dan jantungnya yang membeku seolah mencair. "Ia kembali," bisiknya dengan nada yang dipenuhi kerinduan. Babak II: Kebangkitan di Dunia Roh Lianhua terbangun di dunia roh, tidak lagi sebagai manusia, tetapi sebagai Dewa Bunga, Hua Shen (花神). Ia dilayani, dipuja, tetapi hatinya tetap kosong. Ingatannya tentang kehidupan manusia kabur, hanya serpihan emosi yang tertinggal: kesedihan, kesepian, dan kerinduan yang tak terdefinisikan. Xingyue mendekati Hua Shen dengan hati-hati. Ia tahu, jika ia terlalu terburu-buru, ia bisa *KEHILANGANNYA* lagi. Ia mendekati Hua Shen dengan mata tertutup, merasakan auranya, mencium aroma bunganya. "Aku mencintaimu, Hua Shen," bisiknya. "Aku selalu mencintaimu. Bahkan sebelum kau terlahir kembali." Hua Shen merasakan tarikan yang kuat pada Kaisar Bayangan. Matanya yang biasa dipenuhi kebingungan, kini memancarkan rasa ingin tahu. "Mengapa kau mencintaiku?" tanyanya dengan suara yang nyaris tak terdengar. Xingyue tersenyum, senyum yang tak pernah dilihat siapapun. "Karena kau adalah bagian dari diriku yang hilang. Kau adalah Cahaya di dalam kegelapanku. Kau adalah alasan mengapa aku ada." Babak III: Rahasia Sang Kaisar Bayangan Namun, kebahagiaan mereka tak berlangsung lama. Sebuah ramalan kuno muncul ke permukaan: *Hua Shen akan menghancurkan dunia roh, kecuali jika ia dikorbankan oleh orang yang paling mencintainya*. Xingyue, yang *TERGILA-GILA* pada Hua Shen, dihadapkan pada pilihan yang mustahil. Ia bisa melindungi Hua Shen dan membiarkan dunia roh hancur, atau ia bisa mengorbankan Hua Shen dan menyelamatkan dunianya. Hua Shen, yang mulai mengingat potongan-potongan kehidupannya sebagai Lianhua, merasakan bahaya yang mengancam. Ia mulai menyelidiki masa lalunya, mencari tahu mengapa ia begitu penting, mengapa kematiannya di dunia manusia adalah awal dari takdir baru. Ia menemukan sebuah rahasia yang MENGGETARKAN jiwa: Xingyue tidak mencintainya, *TAPI MENCINTAI BAYANGAN MASA LALUNYA*. Lianhua dulunya adalah *PUTRI DEWA* yang sangat kuat, kekuatannya terlalu besar untuk dikendalikan. Untuk melindunginya dan dunia, ia dijatuhkan ke dunia manusia, ingatannya dihapus, kekuatannya disegel. Xingyue, yang jatuh cinta pada sang putri dewa, berjanji akan menunggunya. Namun, dalam penantiannya, ia *TEROBSESI*. Ia memanipulasi kematian Lianhua, menariknya ke dunia roh, dan mencoba mengubahnya menjadi sang putri yang ia cintai. Ia tidak mencintai Lianhua, ia mencintai ilusi masa lalu. Babak IV: Kebenaran yang Membebaskan Hua Shen menghadapi Xingyue dengan kebenaran yang ia temukan. "Kau tidak mencintaiku," katanya dengan air mata berlinang. "Kau mencintai *BAYANGAN* seorang putri dewa yang sudah lama mati. Kau memanipulasi takdirku, kau menggunakan aku!" Xingyue, terpukul oleh kebenaran, jatuh berlutut. "Aku…aku… aku hanya ingin bersamamu," gumamnya. "Kau ingin memiliki *BAYANGAN*, bukan diriku!" balas Hua Shen dengan amarah yang selama ini terpendam. Dengan kekuatan yang baru ditemukan, Hua Shen melepaskan diri dari ikatan takdir yang dibuat oleh Xingyue. Ia tidak menjadi sang putri dewa yang dipuja, ia menjadi dirinya sendiri: Hua Shen, dewi bunga yang berhak menentukan takdirnya sendiri. Ia melepaskan belas kasihannya kepada dunia roh, tetapi menolak cinta Xingyue. "Aku tidak bisa mencintai seseorang yang mencintai *BAYANGAN*," katanya dengan tegas. Saat ia meninggalkan Xingyue yang hancur, ia berbisikkan mantra kuno: *"Biarkan Bulan melupakan nama, dan Bayangan membisikkan kebenaran, agar yang tertutup mata, akhirnya melihat."*
You Might Also Like: Rahasia Pelembab Lokal Dengan Tekstur