Oke, ini dia kisah Dracin pendek yang Anda minta: **Aku Mencintaimu Bahkan Saat Kau Tak Lagi Percaya Reinkarnasi** Lorong istana Kaisar Giok *remang-remang*. Obor-obor yang menempel di dinding batu kuno menari-nari, melemparkan bayangan panjang yang menakutkan. Suara langkah kaki menggema, memecah kesunyian yang pekat. Langkah itu milik Li Wei, seorang pria yang telah dinyatakan meninggal sepuluh tahun lalu, namun kini berdiri tegak di hadapan gerbang menuju kediaman Permaisuri Lan. Kabut menyelimuti Puncak Huangshan seperti selubung kematian. Di sanalah, di tepi jurang yang dalam, Permaisuri Lan menunggu. Wajahnya yang cantik namun dingin tak menunjukkan keterkejutan saat Li Wei muncul dari balik kabut. "Li Wei… kukira kau sudah menjadi debu," ucap Permaisuri Lan, suaranya *selembut* sutra namun mengandung **racun**. Li Wei menatapnya lurus-lurus. Matanya, yang dulu penuh cinta, kini hanya memancarkan kesedihan dan kekecewaan. "Kau tahu betul, Permaisuri, debu tidak bisa membawa pesan." "Pesan? Pesan apa yang kau bawa dari alam baka?" Permaisuri Lan tertawa kecil, nada mengejek menyusup di antara tawanya. "Jawaban atas pertanyaan yang tak pernah kau tanyakan. Mengapa aku mati. Siapa yang mengkhianatiku." Li Wei melangkah maju, semakin mendekat ke jurang. Kabut semakin tebal, melahap separuh tubuhnya. "Pertanyaan bodoh. Kau mati karena kecerobohanmu sendiri. Kau *terlalu* percaya pada orang lain," jawab Permaisuri Lan, matanya menyipit. "Aku memang percaya. Aku percaya pada cintamu, Lan. Tapi aku salah. Kau yang memerintahkanku untuk meminum anggur itu. Kau yang mengatur agar aku jatuh dari tebing." Permaisuri Lan terdiam. Angin bertiup kencang, menerbangkan helaian rambutnya yang hitam legam. "Kau... kau tahu?" "Aku tahu segalanya. Selama sepuluh tahun, aku mengumpulkan bukti. Aku melihatmu menikmati kekuasaanmu, melihatmu tersenyum di atas penderitaanku." Li Wei mengulurkan tangan, menyentuh pipi Permaisuri Lan. Sentuhan itu *dingin*, *hampa*. "Aku kembali bukan untuk membalas dendam. Aku kembali untuk melihat apakah di hatimu masih tersisa sedikit saja cinta untukku. Ternyata… tidak ada." Permaisuri Lan meraih tangan Li Wei, menggenggamnya erat. "Kau salah, Li Wei. Aku *selalu* mencintaimu. Tapi cintaku… *berbeda*." Ia mendorong Li Wei. Pria itu kehilangan keseimbangan, jatuh ke dalam jurang yang gelap dan dalam. Suara jeritannya tertelan kabut. Permaisuri Lan berdiri di tepi jurang, menatap ke bawah. Senyum tipis bermain di bibirnya. "Kau pikir aku korban? Oh, Li Wei yang malang, kau salah. Aku adalah dalang dari segalanya. Aku *selalu* memegang kendali. Cinta adalah *kekuatan*, dan aku menggunakan cintamu untuk *mendapatkan* apa yang kuinginkan: Takhta. Sekarang, bahkan kematianmu pun masih melayaniku. Kau adalah *tumbal* yang sempurna." Permaisuri Lan berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan kabut dan jurang yang sunyi. Angin berbisik di telinganya, membawa gema tawa yang dingin dan mengerikan. Langkahnya mantap, penuh keyakinan. Kemudian, Permaisuri Lan tersenyum, **SENYUM YANG MENGERIKAN**. Ia mendongak ke langit, menatap matahari yang mulai tenggelam. "Dan sekarang, akulah Dewa."
You Might Also Like: 119 Perbedaan Skincare Lokal Aman Untuk
