Kisah Populer: Surat Yang Tak Pernah Terkirim Ke Pangeran Pengkhianat



**Surat yang Tak Pernah Terkirim ke Pangeran Pengkhianat** Hujan meretas kaca jendela kafe, serupa air mata yang enggan jatuh sempurna. Aroma kopi pahit menguar, menyatu dengan getir yang kurasa setiap kali notifikasi dari akun media sosialnya muncul. Hanya notifikasi biasa, tapi cukup untuk membangkitkan *KENANGAN* yang kubungkus rapat-rapat dalam laci ingatan. Dulu, kami bertemu di antara denting *keyboard* dan sapaan virtual. Aku, seorang ilustrator lepas yang tenggelam dalam dunia fantasi, dan dia, seorang pengusaha muda dengan senyum menawan. Cinta kami tumbuh dari obrolan tengah malam, janji-janji manis di balik layar, dan mimpi-mimpi yang kami rajut bersama. Panggil saja dia, Jian, sang pangeran pengkhianat. Pesan-pesan kami dulu bagaikan puisi digital: > "Bintang-bintang cemburu padamu, karena kau lebih bersinar di mataku." > > "Setiap goresan penamu adalah melodi yang menenangkan jiwaku." Kini, pesan-pesan itu hanya tinggal sisa *CHAT YANG TAK TERKIRIM*, draft yang penuh amarah, kesedihan, dan pertanyaan yang tak pernah terjawab. Kenapa dia pergi? Kenapa dia memilih wanita lain, pewaris kekayaan yang lebih besar? Aku mencoba melupakannya, menyibukkan diri dengan proyek ilustrasi, menenggelamkan diri dalam dunia warna dan imajinasi. Tapi, setiap kali hujan turun, bayangannya hadir kembali, menari-nari di balik tirai air. Aku melihat Jian di setiap wajah yang mirip dengannya, mendengar suaranya di setiap alunan musik klasik. Misteri kepergiannya perlahan terkuak. Seorang teman, mantan rekan kerjanya, mengungkap sebuah *RAHASIA*. Jian dijodohkan oleh keluarganya, terpaksa mengkhianati cinta kami demi menyelamatkan perusahaan keluarga dari kebangkrutan. Dia terperangkap dalam jaring takdir, menjadi boneka dari sebuah permainan yang kejam. Amarahku mendidih, tapi di saat yang sama, aku merasakan sakit yang teramat dalam. Dia memilih kekayaan daripada cinta. *DIA PENGKHIANAT*. Aku memutuskan untuk membalas dendam. Bukan dengan teriakan atau air mata, tapi dengan karya. Aku menciptakan sebuah komik tentang seorang pangeran yang terpaksa mengkhianati cintanya demi tahta. Komik itu viral, mendunia. Semua orang terpesona dengan kisah tragis itu, tanpa tahu bahwa itu adalah kisah kami. Suatu malam, aku menerima pesan dari nomor tak dikenal: "Aku tahu itu tentangku." Aku membalas: "Kau terlambat. Kisahmu sudah selesai." Aku menutup laptop, menatap pantulan diriku di jendela. Sebuah *SENYUM TIPIS* menghiasi bibirku. Bukan senyum kemenangan, tapi senyum kebebasan. Kemudian, aku menghapus semua foto dan pesan tentangnya. Aku memilih kebahagiaanku sendiri, masa depanku sendiri. Aku akan menciptakan cerita baru, dengan tokoh utama yang jauh lebih pantas. Dan di detik itu, aku mengirimkan pesan terakhir: "Terima kasih sudah mengajariku arti dari cinta yang tak pernah ada." *Hapus kontak.* Kemudian, aku mematikan lampu dan membiarkan kesunyian malam menelanku, membawa serta sebuah rasa kosong yang terasa… *sempurna.*
You Might Also Like: Cara Face Wash Aman Untuk Ibu Hamil

Post a Comment

Previous Post Next Post