Absurd tapi Seru: Kau Mencium Tanganku, Tapi Dinginnya Tak Pernah Hilang



## Kau Mencium Tanganku, Tapi Dinginnya Tak Pernah Hilang Langit berwarna karat malam ini, persis seperti kopi pahit yang selalu kau pesan. Sinyal ponsel berkedip-kedip, mengkhianati janji koneksi abadi. Chat kita, lagi-lagi, berhenti di *‘sedang mengetik…’*. Seolah semesta punya selera humor yang kejam, mempertemukan kita di dunia yang RETAK ini. Aku, Elara, hidup di *pecahan memori*, di mana gramofon masih berputar dan surat cinta ditulis dengan tinta dan air mata. Aku merasakan sentuhanmu di angin, mendengar suaramu di gemerisik daun-daun yang gugur. Tapi kau, Kai, kau berada di masa depan yang mengkilap dan kosong, di antara gedung-gedung pencakar langit yang menusuk langit kelabu dan mobil terbang yang kehilangan arah. Pertemuan pertama kita terjadi di jembatan digital, glitch dalam matriks yang mempertemukan dua dimensi. Kau menggenggam tanganku, Kai, tanganku yang dipenuhi dingin masa lalu. Kau menciumnya. Sentuhanmu sehangat matahari buatan, tapi dinginnya *tak pernah hilang*. Dingin dari lorong waktu yang memisahkan kita. Dingin dari kesepian abadi. Kau bercerita tentang dunia tanpa bintang, tentang hujan asam yang membakar kulit, tentang manusia yang berkomunikasi lewat tatapan kosong di layar kaca. Aku menceritakan tentang kebun mawar yang kini terbakar, tentang sungai yang tercemar air mata, tentang lagu-lagu cinta yang kehilangan nada. Kita *MENCARI* satu sama lain, seperti dua keping puzzle yang salah cetak. Kita membangun istana dari kode biner dan debu nostalgia. Tapi istana itu rapuh. Terlalu mudah runtuh oleh suara notifikasi yang tak kunjung tiba. Suatu malam, di tengah badai radiasi yang melanda kotamu, kau berbisik melalui saluran radio yang berderak. "Elara… aku menemukan… sesuatu…" Aku menunggu. Menunggu suara yang akan menyempurnakan teka-teki ini. Menunggu *keb*e*naran*. Suara itu datang, bukan dengan jawaban, tapi dengan gema yang menusuk. Ternyata, Kai… cinta kita… hanyalah *ECHO* dari kehidupan sebelumnya. Kehidupan yang tak pernah selesai, terperangkap dalam lingkaran waktu. Kita adalah reinkarnasi dari dua jiwa yang gagal bertemu, dikutuk untuk saling mencari dalam kekacauan ruang dan waktu. Kau mencium tanganku. Aku merasakan dinginnya. Dan aku tahu… ini bukan akhir. Ini hanyalah… *…pengulangan…*
You Might Also Like: Unveiling Enigma Snakes And Tail

Post a Comment

Previous Post Next Post