Ini Baru Drama! Senyum Yang Membuat Dunia Terdiam



**Senyum yang Membuat Dunia Terdiam** Hujan jatuh di atas makam batu itu, **_sunyi_** dan abadi. Butir-butir air menari di atas namanya, mengukir ulang setiap huruf yang terpahat, seolah ingin mengingatkannya pada sesuatu yang LUPA. Aku berdiri di sana, bukan lagi sebagai Lin, gadis dengan senyum secerah matahari, melainkan sebagai *bayangan*, roh yang terikat antara dunia hidup dan dunia arwah. Dunia ini terasa asing. Dulu, aku bisa merasakan hangatnya mentari di kulit, harumnya bunga Mei yang bermekaran di taman rumah. Sekarang, hanya *kedinginan* yang menjalar di setiap sentuhanku. Hanya *keheningan* yang menemani langkahku. Aku kembali, bukan karena kemauan, melainkan karena *kebutuhan*. Sebuah kebenaran yang belum terucap, sebuah janji yang belum tertunaikan, sebuah senyum yang belum sempat kuberikan pada orang yang paling kucintai. Kematian datang terlalu tiba-tiba, merenggutku di tengah malam yang kelam, meninggalkan dunia ini dalam tanda tanya besar. Aku mengembara, menyusuri jalan-jalan yang dulu sering kulalui. Bayangan diriku mengikuti, setia seperti *kesedihan* yang tak mau melepaskan. Kulihat ibu duduk di beranda, matanya sembab, tangannya gemetar memegang foto diriku. Hati ini **TERIRIS**, namun aku tak bisa menyentuhnya, tak bisa menghapus air matanya. Aku mencari Zhang Wei, tunanganku. Lelaki yang selalu membuat hatiku berdebar hanya dengan sekali tatap. Kulihat dia di tepi sungai, menatap hampa ke arah air yang mengalir. Di tangannya, sebuah kotak beludru berisi cincin pertunangan kami. Banyak yang menduga aku dibunuh. Banyak yang menuduh Zhang Wei sebagai pelakunya. Rumor beredar seperti *api* yang membakar ladang kering, menghancurkan reputasinya, membuatnya hidup dalam *keterasingan*. Aku ingin berteriak, memberitahukan kebenaran. Aku ingin memeluknya, meyakinkannya bahwa aku tidak menyalahkannya. Tapi aku hanyalah roh, sebuah bisikan angin yang tak mampu didengar. Hari demi hari, aku mengamati. Aku melihat kesedihan yang mendalam di mata Zhang Wei. Aku melihat bagaimana ia berusaha membersihkan namaku, mencari bukti bahwa aku meninggal karena kecelakaan. Aku melihat *pengorbanannya*, *kesetiaannya*, *cintanya* yang abadi. Akhirnya, petunjuk itu muncul. Sebuah rekaman CCTV yang buram menunjukkan seorang pria mendorongku ke jalan, tepat sebelum sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Pria itu adalah Li Feng, mantan kekasihku yang cintanya kutolak mentah-mentah. Motifnya bukan balas dendam pada Zhang Wei. Li Feng ingin aku menjadi miliknya, dan karena aku menolak, ia memilih menghancurkanku. *KEJAM*. Dengan bantuan seorang perantara roh, kebenaran itu akhirnya terungkap. Nama Zhang Wei dibersihkan, Li Feng diadili. Ibuku akhirnya tersenyum lagi, meskipun air mata masih menggenang di pelupuk matanya. Aku sudah menuntaskan apa yang tertinggal. Aku sudah memberikan kedamaian pada orang-orang yang kucintai. Sekarang, aku bisa pergi dengan tenang. Saat mentari pagi menyentuh makam batuku, aku merasakan *kehangatan* yang sudah lama kurindukan. Aku melihat Zhang Wei berdiri di sana, menatap nisan dengan senyum pahit. Aku tahu, ia akan baik-baik saja. Ia akan menemukan kebahagiaannya sendiri. Dan aku… aku akan selalu menjaganya dari kejauhan. Bayangan itu memudar, perlahan menghilang ditelan cahaya. Arwah itu baru saja tersenyum untuk *TERAKHIR* kalinya…
You Might Also Like: 0895403292432 Jual Skincare Dengan

Post a Comment

Previous Post Next Post