Dracin Populer: Air Mata Yang Menjadi Tanda Kemenangan



Baiklah, ini dia kisah pendek ala dracin dengan tema cinta dan balas dendam yang pahit: **Air Mata yang Menjadi Tanda Kemenangan** Alunan piano sendu mengalun di ballroom megah itu. Cahaya kristal lampu gantung berpendar di gaun sutra berwarna **emerald** yang dikenakan Anya. Senyumnya merekah, sempurna. Tapi di balik senyum itu, tersembunyi badai di hatinya. Badai yang telah lama dipendam, sejak malam *terkutuk* itu. Dulu, senyum ini hanya untuknya, untuk Jian. Lelaki yang matanya selalu berbinar saat menatapnya. Lelaki yang menjanjikan dunia. *Dunia palsu*. Anya mengingat pelukan Jian, yang dulu terasa hangat dan melindunginya, kini terasa bagai *racun* yang menggerogoti jiwa. Janji-janji Jian, dulu bagaikan melodi indah, kini berubah menjadi *belati* yang menusuk ulu hatinya. Jian berdiri di podium, memberikan pidato kemenangan. Kemenangan atas proyek yang telah mereka bangun bersama. Kemenangan… atas Anya. Karena di samping Jian, berdiri Lian, pewaris konglomerat saingan yang kini menjadi tunangannya. Anya menelan ludah, berusaha tetap tenang. Elegansinya adalah perisai, topeng yang menutupi luka menganga di dadanya. Kehilangan itu seperti kabut tebal yang merasuki setiap sel tubuhnya. Anya mengingat bagaimana Jian mencuri ide-idenya, mengkhianati kepercayaannya, dan meninggalkan dirinya demi *kekayaan* dan *kekuasaan*. Hatinya hancur berkeping-keping. Namun, ia tidak menangis. Ia hanya berjanji pada dirinya sendiri: Jian akan menyesal. Anya telah merencanakannya dengan matang. Setiap langkah diperhitungkan dengan cermat. Ia menggunakan semua pengetahuannya, semua koneksinya, semua *keahliannya* untuk menjatuhkan Jian dan Lian. Bukan dengan darah atau kekerasan. Tapi dengan cara yang jauh lebih menyakitkan: **KEBANGKRUTAN.** Anya tersenyum tipis saat melihat laporan keuangan Jian Grup merosot tajam. Saham anjlok, investor menarik diri, proyek-proyek dibatalkan. Lian pun meninggalkannya, mencari mangsa baru yang lebih menguntungkan. Jian kini kehilangan segalanya, semua yang ia curi dari Anya. Di malam pesta perayaan kebangkrutan Jian Grup, Anya bertemu Jian. Mata Jian penuh dengan penyesalan, dengan *kepedihan*. Ia berusaha meminta maaf, memohon ampun. Anya menatapnya dengan tatapan dingin, tanpa sedikit pun belas kasihan. “Kau telah menghancurkan hatiku, Jian. Sekarang, giliranmu merasakan kehancuran.” Anya berbisik, suaranya setenang desiran angin. Jian berlutut di hadapannya, air mata membasahi pipinya. Tapi Anya tidak tergerak. Ia berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Jian dalam kegelapan. Saat itu, setetes air mata meluncur dari sudut matanya. Air mata *kemenangan*. Air mata yang terasa begitu manis dan pahit di saat yang bersamaan. Ia tahu, Jian akan hidup dalam penyesalan selamanya. Dan itu adalah hukuman yang lebih berat daripada kematian. Anya tersenyum lagi, senyum yang kali ini tulus, tapi juga… kosong. Cinta dan dendam, ternyata lahir dari tempat yang sama…
You Might Also Like: 102 Its Small World Ride At Tokyo

Post a Comment

Previous Post Next Post