Oke, siap! Berikut adalah kisah pendek ala Dracin absurd yang kamu minta: **Aku Menolakmu dengan Logika, Tapi Hatiku Menjawab dengan Rindu** Langit Jakarta *menolak* pagi. Lampu neon berkedip putus asa, sama seperti sinyal di ponselku. Nama "Lin Hao" masih berkedip di layar, statusnya 'sedang mengetik…' sejak *dua hari* lalu. Dunia ini memang retak, pecah jadi piksel-piksel tak berarti. Aku, Anya, terjebak di masa depan yang hancur, masa depan yang terlalu sibuk dengan teknologi untuk sekadar memberi kabar. Aku menemukannya di antara *glitch* dalam matriks, dalam pesan-pesan yang terhapus, dalam suara-suara dari radio usang. Lin Hao. Dia hidup di masa lalu, di masa ketika surat masih dikirim, tatapan masih bermakna, dan cinta tidak diukur dengan *likes*. "Anya," suaranya serak, terdengar seperti rekaman rusak. "Aku mengirimkan surat untukmu. Apakah kau menerimanya?" Aku menahan napas. Surat? Di dunia ini, surat adalah relik dari peradaban yang hilang. "Lin Hao, aku… aku hanya menerima pecahan bayanganmu. Sinyalmu terlalu lemah." Pertemuan kami selalu aneh. Percakapan yang patah-patah, gambar yang terdistorsi, perasaan yang membuncah *NAMUN TAK TERSAMPAIKAN*. Aku mencoba menolaknya dengan logika. Bagaimana bisa aku mencintai seseorang yang hidup di dimensi waktu yang berbeda? Bagaimana bisa aku memeluk seseorang yang hanya eksis dalam *byte* dan kenangan? Tapi hatiku... *Ah, hatiku*. Ia menjawab dengan rindu yang membakar. Rindu pada sentuhan yang tak pernah ada, pada tawa yang hanya terdengar sebagai gema, pada cinta yang seharusnya utuh. Suatu malam, saat badai matahari menghantam sistem komunikasi global, aku menerima pesan terakhirnya. Pesan yang jelas, *tanpa distorsi*. "Anya, aku tahu ini terdengar gila, tapi aku menemukan cara untuk datang ke masamu." Aku terkejut. "Bagaimana mungkin?" Dia tertawa, tawa yang kali ini terdengar jelas, hangat, dan MENYAKITKAN. "Aku menemukan sebuah portal... melalui mimpi. Tapi portal itu hanya terbuka sekali." Detik berikutnya, layar ponselku blank. Gelap. *TOTAL*. Beberapa hari kemudian, aku menemukan sebuah kotak kayu usang di depan apartemenku. Di dalamnya, sebuah surat. Tulisan tangannya... sama persis dengan yang kulihat di layar. *Anya,* *Aku tahu ini absurd, tapi aku harus mencobanya. Jika kau membaca surat ini, itu berarti... aku berhasil? Atau mungkin tidak. Mungkin ini hanya halusinasi, sisa-sisa fragmen kehidupan yang kita impikan.* *Rahasia yang tersembunyi adalah... kita berdua adalah gema. Gema dari dua jiwa yang pernah hidup di masa lalu yang sama, mencoba memperbaiki kesalahan, mencoba mencintai dengan benar. Kita adalah fragmen memori yang terjebak dalam loop waktu, ditakdirkan untuk bertemu dan berpisah berulang kali.* Aku terdiam. Gema? Jadi semua ini... hanya pengulangan? Aku membuka halaman terakhir surat itu. Di sana, tertulis sebuah alamat. Sebuah kafe di Paris, tahun 1920. "Temui aku di sana," tulisnya. "Jika kau... ingat." Aku menatap langit yang tetap menolak pagi. Apakah aku akan pergi? Apakah aku akan terjebak dalam *loop* yang sama? Apakah... ... ***Apakah ada yang benar-benar berakhir?***
You Might Also Like: 28 Alasan Skincare Lokal Untuk Kulit
