Baiklah, inilah kisah dracin tragis berjudul 'Bayangan yang Menyusup Dalam Nama', ditulis dalam gaya yang Anda minta: **Bayangan yang Menyusup Dalam Nama** Kabut lavender menyelimuti Pagoda Bulan Sabit, tempat Lian dan Bai Hua tumbuh bersama. Lian, dengan senyumnya yang mempesona dan kecerdasan setajam belati, dan Bai Hua, anggun bagai teratai namun menyimpan bara api di matanya. Mereka seperti dua sisi koin, tak terpisahkan, namun terikat oleh SUMPAH darah yang dibuat di bawah pohon sakura yang kini telah mati. "Bai Hua," bisik Lian suatu senja, suara rendahnya berpadu dengan desau angin. "Kaulah segalanya bagiku. Melindungimu adalah *takdirku*." Bai Hua tersenyum, namun matanya tak sepenuhnya hangat. "Dan aku, Lian, akan memastikan tak ada yang menyentuhmu. Bahkan jika harus menodai tanganku sendiri." Waktu berlalu, mengukir jalan mereka masing-masing. Lian menjadi jenderal termuda Kekaisaran, dipuja dan ditakuti. Bai Hua, sang penasihat yang bijaksana, selalu berada di sisinya, membisikkan strategi dan menghalau musuh yang tak terlihat. Namun di balik kesetiaan itu, benih *kecurigaan* mulai tumbuh. Desas-desus berbisik tentang pengkhianatan. Tentang Lian yang diam-diam bersekutu dengan barbar di utara, demi kekuasaan yang lebih besar. Bai Hua mendengar semuanya, merasakan cakar es menyayat hatinya. **Mustahil.** Lian tak mungkin mengkhianati sumpah mereka. Namun bukti tak bisa disangkal. Gulungan surat rahasia, saksi bisu yang ketakutan, dan gelagat Lian yang semakin aneh. Bai Hua menghadapi Lian di taman teratai, di bawah sinar bulan yang kejam. "Katakan padaku, Lian. Katakan bahwa semua ini bohong!" Nada suara Bai Hua bagaikan kaca yang retak. Lian menatapnya, matanya sedingin batu giok. "Kebohongan ada di matamu, Bai Hua. Kau terlalu naif untuk melihat gambaran yang lebih besar." "Gambaran apa? Ambisi butamu?!" Lian tertawa, suara yang menusuk ke dalam tulang. "Ambisi? Bukan, Bai Hua. Lebih dari itu. Ini tentang *KEADILAN*. Kekaisaran ini korup, rapuh. Aku akan membangunkannya, meski harus membakarnya habis." Bai Hua menggenggam belati tersembunyi di balik gaunnya. "Dengan mengkhianati rakyatmu sendiri?" "Mereka tidak mengerti!" Lian berteriak, emosi akhirnya merobek topengnya. "Aku melakukan ini untuk mereka! Untuk masa depan yang lebih baik!" "Masa depan yang dibangun di atas darah dan pengkhianatan? Aku tidak akan membiarkannya, Lian." Malam itu, Pagoda Bulan Sabit menjadi saksi bisu pertarungan terakhir mereka. Bayangan menari-nari di dinding, mencerminkan luka di hati mereka. Pedang berdenting, membentur satu sama lain dalam simfoni kematian. Akhirnya, Bai Hua berhasil melukai Lian. Lian tersungkur, darah mewarnai teratai putih menjadi merah. "Kenapa, Bai Hua? Kenapa kau melakukan ini?" bisik Lian, napasnya tersengal. Bai Hua berlutut di sampingnya, air mata mengalir di pipinya. "Karena kau menghancurkan segalanya, Lian. Segalanya yang pernah kita impikan." Lian tersenyum pahit. "Kau… kau tidak mengerti. Akulah yang melindungimu. Akulah yang menanggung beban pengkhianatan ini… *karena akulah yang sebenarnya mengkhianati Klan Seribu Bintang* dahulu kala. Aku merahasiakannya darimu... Demi keselamatanmu." Kata-kata itu jatuh seperti pecahan kaca. Kebenaran yang terlalu mengerikan untuk diterima. Bai Hua terdiam, dunianya runtuh di sekelilingnya. "Aku… aku… mencintaimu… selalu…" gumam Lian, napas terakhirnya menguap di udara dingin. Bai Hua menatap mayat Lian, matanya kosong. Balas dendam telah terbalaskan, namun hatinya hancur berkeping-keping. Dia ditinggalkan sendirian, dengan kebenaran pahit dan penyesalan abadi. *Darahku mungkin akan membersihkan kesalahanmu, tapi siapa yang akan membersihkan noda ini dari jiwaku?*
You Might Also Like: 0895403292432 Peluang Bisnis Kosmetik