Drama Baru! Bayangan Kekasih Di Ujung Neraka



**Kenangan di Balik Lentera yang Redup** Hujan menggigil, menusuk hingga ke tulang sumsum. Di gubuk reyot di tepi jurang, lentera tua berjuang melawan badai. Cahayanya yang kekuningan menari-nari di wajah Lin Yue, seorang wanita yang menyimpan lautan luka di balik senyum tipisnya. Di seberang ruangan, duduklah Zhang Wei, pria yang pernah menjadi dunianya, kini hanya bayangan dari cinta yang dulu membara. Dulu, mereka adalah sepasang merpati yang terbang tinggi di atas ladang lavender. Tawanya adalah melodi yang mengiringi setiap langkah Zhang Wei. Namun, kebahagiaan itu dipenggal oleh pengkhianatan. Zhang Wei, yang tergiur harta dan tahta, menikahi putri seorang jenderal, meninggalkan Lin Yue dengan hati yang terkoyak. "Apakah kau masih membenciku, Yue?" tanya Zhang Wei, suaranya serak dimakan penyesalan. Lin Yue tersenyum, getir. "Benci? Terlalu sederhana untuk mendeskripsikan apa yang kurasakan. Benci itu mudah dihapus. Tapi *luka*... luka itu membekas selamanya." Setiap detik dalam gubuk itu terasa bagai jarum yang menusuk-nusuk. Hujan semakin deras, menggema seperti bisikan masa lalu yang tak terampuni. Bayangan mereka berdua menari-nari di dinding, patah dan tak utuh, mencerminkan hubungan mereka yang hancur. Zhang Wei mengulurkan tangan, hendak menyentuh pipi Lin Yue. Namun, wanita itu mundur, matanya berkilat dingin. "Jangan sentuh aku. Tanganmu sudah ternoda." Zhang Wei menunduk, air mata—entah karena hujan atau penyesalan—menetes di lantai. "Aku tahu aku salah. Aku siap menerima hukumanmu." Lin Yue tertawa pelan, suara yang membuat bulu kuduk Zhang Wei meremang. Tawa yang tidak mencerminkan kebahagiaan, melainkan *kekosongan*. "Hukuman? Hukumanmu sudah dimulai sejak kau meninggalkanku. Sekarang... saatnya permainan yang sebenarnya dimulai." Dengan satu gerakan cepat, Lin Yue mengeluarkan belati dari balik jubahnya. Mata Zhang Wei membulat, kengerian terpancar jelas. "Kau...?" Lin Yue mendekat, belati di tangannya bergetar. "Kau pikir aku hanya menunggu dan meratapi nasib? Oh, Zhang Wei... kau *sangat* meremehkanku." Cahaya lentera semakin redup, seolah tak ingin menjadi saksi bisu dari adegan mengerikan yang akan terjadi. Hujan semakin menggila, menutupi jeritan Zhang Wei yang tertahan. Lin Yue menatap mayat Zhang Wei yang tergeletak di lantai, napasnya tersengal-sengal. Tugasnya sudah selesai... ataukah belum? Senyum tipis tersungging di bibirnya. Dendamnya bukan hanya tertuju pada Zhang Wei, tetapi juga pada... ***Jenderal yang mengangkat Zhang Wei menjadi menantunya, Dialah yang meracuni ibu Yue***.
You Might Also Like: Agen Kosmetik Passive Income Kota

Post a Comment

Previous Post Next Post