Aku Percaya Cinta Bisa Menyembuhkan, Tapi Ternyata Hanya Memperpanjang Luka
Hujan abu abadi menggantung di langit Kota Tua. Di bawah naungan payung usang, aku menatap Ling Wei. Mata sekelam obsidiannya memantulkan api unggun yang menari-nari. Dulu, mata itu adalah mata saudara, sahabat, belahan jiwaku. Sekarang, hanya ada jurang pemisah yang tak terukur.
"Ling Wei," bisikku, suara serak tertelan angin malam. "Kau selalu bilang, cinta bisa menyembuhkan segalanya."
Senyum sinis mengukir bibirnya yang tipis. "Cinta? Kau masih percaya pada omong kosong itu, Chen Yi? Cinta itu racun, Chen Yi. Racun yang manis, tapi tetap saja racun."
Kami tumbuh bersama di bawah atap keluarga Zhao yang megah namun dingin. Aku, anak angkat yang selalu berusaha membuktikan diri. Dia, pewaris tunggal dengan beban masa depan di pundaknya. Kami berbagi mimpi, berbagi rahasia, bahkan berbagi rasa sakit. Tapi di balik senyum dan persahabatan kami, tersembunyi rahasia besar yang akan merenggut segalanya.
"Ingat malam itu, Ling Wei? Malam ketika gudang terbakar?" Aku menatapnya lekat-lekat, mencari jejak penyesalan di wajahnya.
Mata Ling Wei berkilat. "Kau masih menyalahkan aku? Padahal, kaulah yang seharusnya bertanggung jawab, Chen Yi. Kau!"
Malam itu, api melalap gudang tempat ayah angkatku menyimpan catatan kriminalnya. Kematian ayahku dianggap kecelakaan. Aku percaya. Aku ingin percaya. Sampai aku menemukan bukti bahwa Ling Wei-lah yang menyulut api. Ia menghancurkan semua bukti kejahatan ayah angkat, menyelamatkan reputasi keluarga Zhao, dan... menghancurkan hidupku.
"Kenapa, Ling Wei? Kenapa kau mengkhianati aku?" tanyaku, rasa sakit mencabik-cabik dadaku.
"Karena kau adalah ancaman, Chen Yi. Kau terlalu dekat dengan kebenaran. Dan kebenaran itu... terlalu berbahaya untuk diketahui."
Kata-katanya menghantamku seperti petir. Selama ini, aku percaya dia melindungiku. Ternyata, dia melindunginya sendiri.
"Kau mencintai ayah angkat, bukan?" bisikku. "Bukan sebagai seorang anak, tapi lebih dari itu."
Ling Wei terdiam. Kebenaran tercetak jelas di wajahnya. Cinta yang terlarang, cinta yang merusak, cinta yang menjadi alasan segalanya.
"Cinta... atau obsesi?" tanyaku, getir.
Tawanya terdengar seperti pecahan kaca. "Itu tidak penting lagi. Yang penting, aku akan melakukan apa saja untuk melindunginya... bahkan jika itu berarti membunuhmu."
Tangannya bergerak cepat, sebilah pisau perak berkilauan di bawah rembulan. Aku tidak menghindar. Aku ingin ini berakhir.
"Kau tahu, Ling Wei," bisikku, saat pisau itu menembus dadaku. "Aku selalu percaya cinta bisa menyembuhkan. Tapi ternyata... hanya memperpanjang luka."
Ling Wei menatapku dengan mata terbelalak. Aku tahu dia tidak menyangka aku akan menerima kematian ini. Mungkin, di lubuk hatinya yang paling dalam, dia masih mencintaiku.
Aku tersenyum pahit. "Satu hal yang perlu kau tahu... ayahmu, ayah kandungmu, yang membunuh ibuku."
Mata Ling Wei membelalak sempurna. Rahasia terakhir terungkap.
Darah mengalir deras. Nafasku tercekat.
Mungkin, di kehidupan selanjutnya, kita bisa menjadi saudara yang sebenarnya...
You Might Also Like: Dracin Terbaru Aku Mencintaimu Seperti