Racun Itu Pahit, Tapi Lebih Pahit Menunggumu.
Di antara kabut unguan Lembah Baihua, berdirilah paviliun usang, saksi bisu sumpah yang terucap di bawah rembulan separuh. Anggrek malam merekah, menebarkan aroma pahit manis—seperti racun yang menjalar di nadiku, namun tak sepedih menunggumu.
Lukisan di dinding paviliun itu, konon, menyimpan jiwa seorang dewi yang terperangkap dalam gulungan waktu. Matanya—dua danau zamrud yang beku—menatapku seolah mengenalku dari keabadian silam. Apakah itu kau, kekasih yang hilang, atau hanya bayangan kesepianku yang memantul di permukaannya?
Setiap kali seruling bambu berbunyi, melodi itu seperti belati perak yang menembus hatiku. Melodi itu menceritakan kisah cinta terlarang, kisah tentang seorang putri kayangan yang jatuh cinta pada seorang pendekar tanpa nama. Cinta mereka—sebuah mimpi yang terukir di awan, terlalu indah untuk menjadi kenyataan.
Aku mencari jejakmu di antara reruntuhan istana musim panas, di mana angin berbisik tentang janji yang tak tertepati. Apakah kau benar-benar ada, atau hanya fantasi yang kubangun untuk mengobati luka? Apakah kau adalah ilusi yang diciptakan oleh kesunyian yang mendalam?
Hari demi hari, aku meminum racun kerinduan, berharap menemukanmu di ujung lorong waktu. Setiap teguknya membakar kenangan, membuatku bertanya-tanya, apakah cinta kita hanya ada di dalam lukisan usang, di dalam syair-syair yang terlupakan?
Kemudian, suatu malam berpetir, lukisan di dinding paviliun itu bergetar. Retakan muncul di permukaannya, dan dari sana—keluarlah cahaya keemasan yang menyilaukan. Di tengah cahaya itu, muncul wujudmu.
Kau berdiri di sana, persis seperti dalam lukisan—mata zamrud yang beku, bibir yang tersenyum sedih. Tapi kali ini, kau bukan sekadar lukisan. Kau adalah kenyataan, atau setidaknya—sesuatu yang lebih nyata dari mimpi yang pernah kubayangkan.
"Maafkan aku," bisikmu, suaramu bergema dari masa lalu. "Aku terikat sumpah abadi untuk menjaga gerbang dimensi. Aku tak bisa bersamamu di dunia ini. Lukisan itu adalah satu-satunya cara aku bisa mencintaimu dari kejauhan."
Pengungkapan itu seperti pedang bermata dua. Mengetahui bahwa cintamu nyata—bahwa kau benar-benar ada—hanya membuat luka kehilanganmu semakin dalam. Kebenaran itu pahit, lebih pahit dari racun yang selama ini kuteguk.
Ketika fajar menyingsing, kau menghilang, kembali ke dalam lukisan. Paviliun kembali sunyi, dan hanya aroma pahit anggrek malam yang tersisa.
Namun, sebelum kau pergi, aku melihat sebuah cincin giok di jarimu. Cincin yang sama persis dengan yang kuberikan padamu dalam mimpiku bertahun-tahun yang lalu. Sebuah cincin yang seharusnya tidak mungkin kau miliki, kecuali…
Apakah semua ini benar-benar terjadi, atau hanya… bayangan dari mimpi yang belum selesai?
You Might Also Like: Drama Abiss Senyum Yang Menyembuhkan