Oke, ini dia dracin fantasi berjudul 'Aku terbiasa pada jadwal, tapi rinduku tak bisa diatur', dengan sentuhan yang kamu minta: **Aku Terbiasa pada Jadwal, Tapi Rinduku Tak Bisa Diatur** (Adegan dimulai dengan gambar lentera-lentera kecil berpendar lembut di permukaan danau yang tenang, memantulkan cahaya bintang. Seorang gadis bernama Lin Wei, dengan gaun putih panjang yang berkibar tertiup angin malam, berdiri di tepi danau.) Lin Wei adalah gadis dengan jadwal yang ketat. Bangun pukul 6 pagi, teh herbal pukul 7, membaca kitab kuno pukul 8, latihan pedang pukul 9... Semuanya teratur, terprediksi, dan membosankan. Tapi, di hatinya, ada *sesuatu* yang merindukan. Rindu pada sesuatu yang tidak bisa ia definisikan. Dia tidak tahu bahwa di sisi lain cermin danau, di dunia roh yang berkabut dan abadi, dia dikenal sebagai Yue'er, sang *Penjaga Bulan*, pewaris kekuatan terakhir dari klan Pengendali Waktu. Di dunia manusia, dia adalah Lin Wei, akuntan muda yang berusaha keras memenuhi target. Di dunia roh, dia adalah Yue'er, yang ditinggalkan dan diburu karena kekuatannya. Dua dunia, dua kehidupan, terjalin oleh *BENANG TAKDIR* yang misterius. Suatu malam, saat Lin Wei tengah menghitung angka-angka yang tak berujung, bayangannya di dinding mulai berbicara. "Yue'er," bisik bayangan itu, suaranya serak dan jauh. "Mereka mencarimu. Waktu hampir habis." Lin Wei, terkejut, menjatuhkan kalkulatornya. Angka-angka itu berhamburan seperti bintang jatuh. Ia tahu, tanpa dijelaskan, bahwa *INILAH AWALNYA*. (Adegan beralih ke dunia roh. Yue'er, dalam wujudnya yang sebenarnya, berlari melewati hutan yang bercahaya, dikejar oleh para pemburu dengan mata merah membara. Bulan di atas kepalanya tampak mengawasi, **MENGINGAT NAMANYA** dengan bisikan perak.) Yue'er mengetahui sebagian ingatannya. Kilasan-kilasan kehidupan di dunia manusia datang seperti mimpi: tawa, air mata, dan *sesuatu* yang terasa seperti... Cinta? Tapi siapa yang mencintainya? Dan mengapa ia dilupakan? Dia menemukan petunjuk dalam gua kristal yang tersembunyi. Di sana, tertulis legenda kuno: kematian Yue'er di dunia manusia adalah **KUNCI** untuk membuka kekuatan penuhnya sebagai Penjaga Bulan. Ia *harus* mati sebagai Lin Wei, untuk benar-benar hidup sebagai Yue'er. Namun, ada satu nama yang terus muncul dalam benaknya: Bai Lian, seorang cendekiawan muda yang ramah dan penuh perhatian di dunia manusia. Lin Wei merasa terikat dengannya, meski tidak ingat apapun. Bai Lian selalu ada di sana, membawa secangkir teh herbal hangat saat ia lelah, memberinya senyuman yang menenangkan saat ia merasa tertekan. Kembali di dunia manusia, Lin Wei menemukan bahwa Bai Lian bukanlah manusia biasa. Ia adalah reinkarnasi dari seorang dewa yang jatuh, yang mencintai Yue'er di kehidupan masa lalu. Namun, cintanya *terkutuk*. Setiap kali mereka bersama, salah satu dari mereka akan mati. *Bai Lian* adalah orang yang memanipulasi takdir. Ia menciptakan identitas Lin Wei, menghapuskan ingatan Yue'er, berharap dengan menguburnya di dunia manusia, Yue'er akan aman. Tapi, ia tidak menyadari bahwa *itulah* yang dibutuhkan untuk membuka kekuatan Yue'er yang sebenarnya. Di saat terakhir, saat para pemburu mengepung Yue'er di dunia roh, Lin Wei *memilih*. Ia memilih untuk menerima kematiannya sebagai Lin Wei, untuk melindungi Bai Lian, dan untuk mengembalikan keseimbangan pada kedua dunia. Ia menutup matanya, dan bisikan bulan membawanya pergi. (Adegan kembali ke danau dengan lentera-lentera. Yue'er, dengan kekuatan penuhnya, berdiri di sana, mengenakan mahkota bulan sabit. Ia menatap bayangan Bai Lian di permukaan air.) "Siapa yang mencintai, dan siapa yang memanipulasi takdir?" ia bertanya pada bayangan itu. Bayangan Bai Lian tersenyum sedih. "Cinta adalah manipulasi terindah, Yue'er. Dan takdir... adalah kanvas tempat kita melukisnya." Yue'er tahu, jauh di lubuk hatinya, bahwa Bai Lian mencintainya, dengan cara yang keliru, dengan cara yang menghancurkan. Ia memilih untuk menghapus ingatannya, bukan karena ingin menyakitinya, tetapi karena *takut* kehilangannya. Dia tahu dia tidak bisa menghukumnya. Dia hanya bisa memaafkannya. Saat fajar menyingsing, Yue'er mengangkat tangannya ke arah bulan yang memudar. Lentera-lentera di danau menyala lebih terang, memancarkan cahaya keemasan yang menyilaukan. "Semoga air mata bulan menyirami benih takdir yang baru..." **(KALIMAT MENGGANTUNG): *Etherea Luna, Somnia Vitae, Veritas Occulta.*"**
You Might Also Like: Landmark Ruling Supreme Court Declares