Dracin Terbaru: Ia Datang Saat Aku Sudah Tak Percaya Pada Kehidupan



Ia Datang Saat Aku Sudah Tak Percaya pada Kehidupan

Hu Die, nama yang kuno, secantik kupu-kupu yang rapuh. Ia berdiri di balkon apartemennya, lantai 27, menatap gemerlap kota Shanghai. Lampu-lampu itu serupa bintang yang terjatuh, namun cahayanya tak mampu menghangatkan hatinya yang membeku. Dulu, ada Wei—matahari dalam hidupnya.

Wei datang seperti angin musim semi, membawa tawa yang renyah dan janji tentang masa depan yang cerah. Ia melukis dunia Hu Die dengan warna-warna ceria, setelah sebelumnya hanya ada abu-abu. Senyum Wei begitu menawan, membuat Hu Die lupa bahwa dunia ini seringkali kejam. Pelukannya terasa begitu hangat, hingga ia tak sadar bahwa di baliknya tersimpan racun.

"Aku akan selalu mencintaimu, Hu Die," bisik Wei suatu malam, di bawah rembulan purnama. Kata-kata itu bagai madu, manis dan memabukkan. Hu Die mempercayainya dengan sepenuh hati. Ia memberikan seluruh dirinya, seluruh cintanya.

Namun, musim semi tak pernah abadi.

Wei, matahari dalam hidupnya, ternyata juga memiliki matahari lain. Seorang wanita muda, kaya, dan berpengaruh. Hu Die mengetahuinya secara tak sengaja, melalui sebuah foto di media sosial. Senyum Wei di foto itu sama persis dengan senyum yang pernah ia berikan pada Hu Die, namun matanya memancarkan kebahagiaan yang berbeda. Kebahagiaan yang bukan untuknya.

Dunia Hu Die runtuh. Janji-janji Wei berubah menjadi belati, menusuk jantungnya berkali-kali. Ia mencoba menutupi lukanya dengan senyum palsu, dengan elegansi yang dingin. Ia tidak menangis, tidak berteriak. Ia hanya merasakan kehampaan yang dalam.

"Kau baik-baik saja?" tanya sahabatnya, Mei Lan, suatu sore.

Hu Die tersenyum tipis. "Tentu saja. Aku Hu Die. Aku selalu baik-baik saja."

Mei Lan menatapnya dengan tatapan khawatir. Ia tahu, di balik senyum itu, Hu Die terluka parah.

Hu Die memutuskan untuk membalas dendam. Bukan dengan kekerasan, bukan dengan air mata. Ia akan membuat Wei menyesal.

Ia memulai dengan membangun kembali dirinya sendiri. Ia fokus pada karirnya, menjadi seorang pengusaha wanita yang sukses dan disegani. Ia mempercantik dirinya, bukan untuk menarik perhatian Wei, tapi untuk dirinya sendiri. Ia belajar tersenyum dengan tulus, bukan untuk menutupi luka, tapi untuk merayakan kekuatannya.

Setahun kemudian, Hu Die menghadiri sebuah acara amal. Wei ada di sana, bersama wanita itu. Wei melihat Hu Die dan matanya memancarkan penyesalan. Ia mencoba mendekat, namun Hu Die menolaknya dengan tatapan dingin.

"Selamat atas kesuksesanmu, Hu Die," kata Wei dengan suara lirih.

Hu Die tersenyum manis. "Terima kasih. Aku harap kau bahagia dengan pilihanmu."

Ia berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Wei berdiri terpaku di tempatnya. Ia tahu, Wei akan menyesal selamanya. Bukan karena Hu Die menghancurkan hidupnya, tapi karena ia kehilangan seseorang yang benar-benar mencintainya.

Beberapa tahun kemudian, Hu Die membaca berita tentang Wei. Bisnisnya bangkrut, pernikahannya berantakan. Ia hidup dalam kesepian dan penyesalan.

Hu Die tidak merasa bahagia. Ia juga tidak merasa sedih. Ia hanya merasa hampa.

Ia menatap langit malam, mencari bintang yang hilang. Ia sadar, cinta dan dendam lahir dari tempat yang sama: hati yang terluka.

Dan luka itu... mungkin takkan pernah benar-benar sembuh.

You Might Also Like: Distributor Skincare Bisnis Sampingan

Post a Comment

Previous Post Next Post