Absurd tapi Seru: Kau Menulis Pesan Terakhir, Dan Aku Membaca Setiap Katanya Berulang



Baik, inilah kisah dracin intens berjudul 'Kau Menulis Pesan Terakhir, dan Aku Membaca Setiap Katanya Berulang', yang saya coba tuliskan dengan gaya yang Anda inginkan: **Kau Menulis Pesan Terakhir, dan Aku Membaca Setiap Katanya Berulang** Malam itu, salju turun seperti serpihan kenangan yang membeku. Di pelataran kuil yang remang, darah merah membajak putihnya salju, menciptakan lukisan mengerikan yang menolak dilupakan. Asap dupa mengepul, menyelimuti aroma logam anyir dan kepahitan air mata. Di tengahnya, aku berlutut, menggenggam surat darimu, jari-jariku gemetar bukan hanya karena dingin. _"Maafkan aku, Mei… atas segalanya."_ Setiap kata adalah duri yang menghujam jantungku, setiap spasi adalah jurang yang memisahkan kita. Kau tahu aku akan membacanya, bukan? Kau tahu aku akan _mencari_ kebenarannya di balik setiap goresan tinta yang kau torehkan di atas kertas usang ini. Dulu, kita berjanji di bawah pohon sakura yang bermekaran. Janji tentang cinta abadi, tentang masa depan yang kita rajut bersama. Namun, masa lalu yang gelap, rahasia keluarga yang terkubur lama, merayap naik seperti ular berbisa, meracuni setiap helai benang kebahagiaan kita. Kau tahu kebenarannya, bukan? Kau tahu bahwa ayahmu bertanggung jawab atas kematian keluargaku. Pembantaian itu… aku masih bisa mencium bau darah dan melihat wajah-wajah tak berdosa itu dalam mimpiku. Kau memilih melindunginya. Kau memilih darahmu. Dan aku? Aku memilih KEADILAN. Aku bangkit, surat itu remuk dalam genggamanku. Mataku menatap dingin ke arah siluet di kejauhan. Dia berdiri di sana, di bawah naungan bayangan kuil, mengenakan hanfu putih yang kontras dengan noda merah di dadanya. Ayahmu. Dia menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan – penyesalan? Ketakutan? Entahlah. Yang jelas, dia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Tidak perlu. Balas dendam bukanlah hidangan yang sebaiknya disajikan dingin. Balas dendam adalah **api** yang membakar jiwa, yang harus segera dipadamkan sebelum menghanguskan segalanya. Dan aku? Aku adalah **pemadam** yang paling sabar. Aku menunggu bertahun-tahun, membiarkan api itu membakar diriku, hanya agar bisa memadamkannya dengan cara yang paling menyakitkan. Aku menghunus pedangku, kilau peraknya memantulkan cahaya bulan. Tidak ada amarah dalam diriku, hanya ketenangan yang mengerikan. Ketenangan seorang pembunuh yang sudah lama merencanakan ini. Pertarungan singkat, brutal, dan tanpa ampun. Darahnya mewarnai salju lebih pekat dari darahmu. Dia jatuh, matanya memohon ampun. Tapi aku tidak mendengar. Aku tidak akan pernah mendengar. Aku menatap mayatnya, tidak merasakan apa pun. Tidak ada kepuasan, tidak ada penyesalan. Hanya kekosongan yang lebih besar dari sebelumnya. Kau menulis pesan terakhir, dan aku membaca setiap katanya berulang. Tapi kau lupa menuliskan satu hal: konsekuensi. Aku berbalik, meninggalkan kuil yang bersimbah darah dan air mata. Salju terus turun, menutupi jejakku. Tapi tidak ada yang bisa menutupi luka di hatiku. _Dan di kejauhan, terdengar suara lonceng berdentang, pertanda kematian yang membekukan darah, dan kau tahu, di suatu tempat, dia tersenyum dalam kegelapan._
You Might Also Like: Tutorial Tabir Surya Lokal Untuk Kulit

Post a Comment

Previous Post Next Post