**Cinta yang Tumbuh dari Abu Dendam** Hujan kota membasahi kaca jendela kafe. Aroma kopi robusta, pahit dan kuat, gagal menutupi aroma masa lalu yang menguar dari sisa chat yang tak terkirim. Di layar ponsel, notifikasi berkedip-kedip, janji-janji manis digital yang kini terasa seperti *sindiran*. Anya, dengan rambut legam tergerai, menatap hampa ke luar jendela. Matanya yang biasanya berbinar kini meredup, menyimpan badai di baliknya. Dulu, layar ponsel ini adalah jembatan cintanya dengan Jian. Sekarang, hanya ada abu. Abu *dendam*. Jian, arsitek muda berbakat, menghilang tanpa jejak setahun lalu. Hanya meninggalkan pesan singkat: "Maaf. Aku tidak bisa." Tak ada penjelasan, tak ada petunjuk. Anya menghabiskan hari-harinya mencari, bertanya, mengorek setiap sudut kota. Yang ia temukan hanya kebisuan. Kebisuan yang menyakitkan. Setiap malam, Anya bermimpi. Mimpi tentang Jian, tentang tawa mereka di bawah *hujan bintang*, tentang janji-janji yang terucap di tengah *deru ombak*. Mimpi-mimpi itu terasa begitu nyata, begitu dekat, hingga Anya terbangun dengan air mata membasahi pipi. Kemudian, seorang kurir datang. Sebuah amplop cokelat tanpa nama pengirim. Di dalamnya, sebuah flashdisk. Ketika Anya menyambungkannya ke laptop, sebuah video terputar. Jian, dalam video itu, berbicara dengan suara lirih. "Anya… jika kau menonton ini, berarti aku sudah pergi. Aku tahu ini tidak adil, tapi aku tidak punya pilihan lain. Keluarga… keluarga memaksa aku menikah dengan orang lain. Demi bisnis, demi nama baik keluarga. Maafkan aku, Anya. *Aku selalu mencintaimu*." Dunia Anya runtuh. Dendam yang selama ini dipendamnya meledak menjadi lahar panas. Ia merasa dikhianati, dipermainkan, direnggut kebahagiaannya. Namun, di tengah amarahnya, Anya menemukan secercah kekuatan. Ia tidak akan membiarkan Jian lolos begitu saja. Anya mulai menyusun rencana. Bukan rencana balas dendam yang kejam, bukan rencana yang akan merusak hidup Jian. Anya memilih balas dendam yang lebih *halus*, lebih *menyakitkan*. Anya mengetahui bahwa Jian akan menikah di sebuah hotel mewah di tepi pantai. Ia datang ke pernikahan itu, bukan untuk mengacau, tapi untuk memberikan *kado*. Kado yang tak akan pernah dilupakan Jian. Ketika Jian sedang mengucapkan janji suci, Anya menyelinap ke depan altar. Ia menyerahkan sebuah amplop putih kepada Jian. Dengan senyum dingin, Anya berbisik, "Ini kado dariku. Bacalah nanti." Jian dengan ragu menerima amplop itu. Di dalamnya, hanya ada satu lembar foto. Foto Anya dan Jian, tertawa bahagia di bawah hujan bintang, di pantai yang sama tempat mereka mengucapkan janji cinta. Di belakang foto itu, Anya menulis: "Selamat berbahagia. Jangan lupakan aku." Jian menatap Anya dengan tatapan *penuh penyesalan*. Anya hanya tersenyum, berbalik, dan berjalan pergi. Ia meninggalkan Jian di altar, di tengah keramaian, di hari pernikahannya. Anya meninggalkan Jian dengan kenangan yang tak akan pernah bisa dihapus. Anya kembali ke kafe. Ia memesan secangkir kopi robusta. Di layar ponselnya, ia menulis pesan terakhir untuk Jian: "Selamat tinggal, cintaku. Selamat tinggal, dendamku." Pesan itu *tidak pernah terkirim*. Anya menghapus nomor Jian dari ponselnya. Anya menyesap kopinya. Hujan kota masih membasahi kaca jendela. Namun, di dalam hatinya, ada *keheningan*. Keheningan yang *lebih menusuk daripada teriakan*. Anya menatap kosong ke luar jendela. Kebahagiaan yang direnggut…
You Might Also Like: Jualan Kosmetik Bisnis Tanpa Stok