**Kau Bilang Cinta Sudah Mati, Tapi Jantungmu Berdetak Setiap Kali Kulihat** Hujan kota mengguyur kaca jendela apartemenku, sama derasnya dengan air mata yang enggan tumpah. Di layar ponsel, notifikasi terakhir dari nomor itu masih terpampang: "Sedang mengetik...". Tak pernah terkirim. Seperti perasaan yang mengendap di antara kita, tertahan di tenggorokan, tak mampu terucap. Kau bilang cinta sudah mati. Katamu, *sudah lama sekali*. Aku tertawa hambar. Mati? Bagaimana bisa cinta mati, sementara aromanya masih semerbak dalam setiap cangkir kopi yang kuseduh? Aroma yang sama dengan kopi favoritmu di kedai pojok jalan, tempat kita pertama kali bertukar pandang. Di playlist lagu, tanpa sengaja terputar lagu kita. Lagu yang selalu kau nyanyikan dengan suara fals, tapi membuatku tertawa. Sekarang, hanya air mata yang mengalir. Di galeri ponsel, foto-foto kita bertebaran seperti pecahan kaca. Tawa kita, senyum kita, sentuhan kita. Semua itu... dulu. Kita bertemu di dunia maya. Aplikasi kencan, swiping kanan, dan obrolan yang tak pernah putus. Kau memikatku dengan puisi-puisi pendek yang kau kirimkan lewat pesan singkat. Kata-kata yang menyentuh relung jiwa, membuatku merasa dilihat, dipahami, **DICINTAI.** Tapi, ada rahasia di balik senyummu. Ada bayangan kelam di matamu. Kau selalu menghindar saat aku bertanya tentang masa lalu. Kau selalu mengalihkan pembicaraan. Sampai akhirnya, aku menemukan sendiri jawabannya. Sebuah nama. Seorang wanita. *Masa lalu yang tak pernah benar-benar kau tinggalkan.* Kau meninggalkanku tanpa penjelasan. Hanya pesan singkat: "Maaf." Maaf untuk apa? Maaf karena telah mencuri hatiku? Maaf karena telah berbohong? Maaf karena telah membuatku percaya pada sesuatu yang **PALSU**? Hatiku hancur berkeping-keping. Aku mencoba melupakanmu. Menghapus semua jejakmu. Tapi, setiap kali aku melihatmu, *jantungku berdetak lebih kencang*. Matamu masih memancarkan kehangatan yang sama. Senyummu masih mampu membuatku lemah. Aku membencimu. Aku mencintaimu. Aku merindukanmu. Aku ingin melupakanmu. Perasaan-perasaan itu saling bertabrakan, menciptakan badai dahsyat di dalam diriku. Aku memutuskan untuk mengakhiri semua ini. Bukan dengan amarah, bukan dengan air mata. Tapi dengan **KEHENINGAN**. Aku mengirimkanmu pesan terakhir. Sebuah foto. Aku mengenakan gaun merah kesukaanmu, berdiri di depan kedai kopi kita. Aku tersenyum. Bukan senyum sedih, bukan senyum getir. Tapi senyum *KEBEBASAN*. Aku tidak menulis apa-apa. Hanya foto itu. Kemudian, aku memblokir nomormu. Menghapus semua jejakmu dari hidupku. Kau bilang cinta sudah mati? Mungkin. Tapi, *kepergianku adalah kematian sesungguhnya bagi harapanmu.* Dan aku pergi, meninggalkanmu dengan satu pertanyaan yang akan menghantuimu selamanya: Apa yang sebenarnya ada di balik senyum itu?
You Might Also Like: Dracin Seru Kau Menatapku Di Tengah