Aroma melati dan debu kitab kuno selalu membuat Xin Yi merasa aneh. Seperti ada kepingan memori yang bergejolak di benaknya, potongan-potongan mimpi yang terasa lebih nyata dari kenyataan. Ia, seorang mahasiswi jurusan Sejarah Arsitektur, merasa begitu terhubung dengan Paviliun Anggrek yang reyot, tempatnya melakukan penelitian. Paviliun itu menyimpan aura magis, seolah dinding-dindingnya masih menyimpan bisikan cinta dan pengkhianatan.
Di kehidupannya yang sekarang, Xin Yi hanyalah seorang gadis biasa. Namun, di mimpi-mimpinya, ia adalah Putri Mei Lin, tunangan Pangeran Zhi Xuan yang gagah berani. Ia ingat janji-janji di bawah rembulan, tawa yang menggema di taman istana, dan sentuhan tangannya yang terasa begitu familier, meski tak pernah dirasakan di dunia ini.
Semakin dalam Xin Yi meneliti sejarah Paviliun Anggrek, semakin kuat pula ingatan masa lalunya mencuat. Ia mulai ingat sosok lain di antara mereka – Jenderal Zhao, tangan kanan Pangeran Zhi Xuan, seorang pria dengan tatapan teduh namun menyimpan ambisi yang gelap.
Pertemuan takdir mempertemukan Xin Yi dengan seorang pria bernama Li Wei. Ia adalah seorang pelukis muda yang memiliki kecintaan mendalam pada seni tradisional. Mata Li Wei MENYERUPAI mata Pangeran Zhi Xuan. Namun, ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang lebih lembut, lebih terluka.
Melalui Li Wei, Xin Yi mulai menyadari kebenaran yang mengerikan. Jenderal Zhao, yang terobsesi pada Putri Mei Lin dan menginginkan kekuasaan, telah meracuni Pangeran Zhi Xuan dan menjebak Putri Mei Lin atas tuduhan pengkhianatan. Putri Mei Lin dieksekusi secara KEJAM, cintanya pada Pangeran Zhi Xuan terenggut sebelum sempat bersemi sepenuhnya.
Balas dendam Xin Yi tidak datang dengan pedang atau racun. Balas dendamnya hadir dalam bentuk kebebasan memilih. Di kehidupan lampau, ia tidak memiliki pilihan. Sekarang, ia punya. Ia memilih untuk tidak mengikuti bayang-bayang masa lalu. Ia memilih untuk tidak menjalin hubungan romantis dengan Li Wei. Ia mengakui ketertarikannya, keakraban yang aneh itu, tapi ia memilih jalannya sendiri.
Ia mendedikasikan hidupnya untuk melestarikan sejarah Paviliun Anggrek, memastikan kisah cinta dan pengkhianatan itu tidak dilupakan, namun tanpa terperangkap di dalamnya. Ia memastikan bahwa nama Putri Mei Lin dikenang bukan sebagai pengkhianat, melainkan sebagai korban dari ambisi dan kebohongan.
Di sebuah malam yang sunyi, Xin Yi berdiri di depan Paviliun Anggrek yang diterangi rembulan. Angin sepoi-sepoi membawa aroma melati dan debu kitab kuno. Ia memejamkan mata dan membisikkan sebuah janji pada masa lalu, pada cinta yang telah hilang:
Aku akan menemukanmu, bukan untuk mengulang, tapi untuk melupakan selamanya.
You Might Also Like: Arti Mimpi Memberi Makan Cicak Makna