Senja di Danau Beku
Hujan menggigil menusuk tulang. Lin Wei berdiri di tepi danau, mantel bulunya tak cukup menghalau dingin yang merayap. Bayangannya, patah tercermin di permukaan air yang beriak, serupa hatinya. Delapan tahun. Delapan tahun sejak malam itu.
Delapan tahun sejak Li Cheng, cintanya, kepercayaannya, mengkhianatinya.
Dulu, danau ini adalah saksi bisu janji-janji mereka. Cahaya lentera yang berpendar, menerangi wajah Li Cheng saat dia bersumpah setia abadi. Sekarang, hanya cahaya lentera yang nyaris padam yang tersisa, berjuang melawan kegelapan yang semakin pekat.
Lin Wei menyentuh liontin giok di lehernya. Giok itu, hadiah dari Li Cheng, terasa dingin membeku. Dulu, kehangatan Li Cheng selalu menyertainya. Sekarang, hanya kehampaan yang dia rasakan.
Setiap tetes hujan adalah bisikan masa lalu. Setiap desiran angin adalah pengingat akan cinta yang hilang. Lin Wei memejamkan mata, membiarkan kenangan itu membanjirinya. Tawa mereka, sentuhan mereka, semua palsu.
Di kejauhan, dia melihat sosok itu. Li Cheng. Lebih tua, lebih keras. Matanya masih sama, tapi di baliknya, Lin Wei melihat kilatan yang tidak dia kenal. Kebencian.
Li Cheng mendekat, langkahnya ragu. "Wei," sapanya, suaranya serak. "Sudah lama."
Lin Wei membuka mata. "Terlalu lama," jawabnya, suaranya sedingin es.
"Aku... aku menyesal," kata Li Cheng, suaranya bergetar.
Lin Wei tertawa sinis. "Penyesalan? Setelah semua yang kau lakukan?"
Li Cheng menunduk. "Aku punya alasan."
"Alasan apa?" Lin Wei bertanya, mendekat. "Alasan apa yang bisa membenarkan pengkhianatanmu?"
Li Cheng mengangkat wajahnya. Matanya penuh dengan kepedihan. "Aku melakukannya untuk melindungimu."
Lin Wei menatapnya dengan tatapan dingin. "Melindungiku? Dengan menikahi wanita lain? Dengan menghancurkan hidupku?"
Li Cheng menggeleng. "Kau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi."
"Oh, aku tahu segalanya, Li Cheng," bisik Lin Wei, mendekat. "Semua rencana, semua kebohongan, semua pengorbanan..."
Li Cheng terkejut. "Bagaimana kau bisa..."
Lin Wei tersenyum. Senyum yang mengerikan. "Aku punya waktu delapan tahun untuk mencari tahu. Dan sekarang, tiba saatnya untuk menagih hutangmu."
Dia mengangkat tangannya, memberikan isyarat kepada seseorang di balik pepohonan. Dua orang muncul, wajah mereka tertutup kain hitam. Mereka menangkap Li Cheng, membawanya menjauh.
Li Cheng berteriak, "Wei, apa yang kau lakukan?!"
Lin Wei menatapnya tanpa emosi. "Aku sedang memberikanmu apa yang pantas kau dapatkan. KEADILAN."
Saat Li Cheng diseret menjauh, Lin Wei membisikkan satu kalimat yang akan menghantuinya selamanya:
"Ternyata, Ibu yang selama ini dianggap telah meninggal, adalah dalang dari SEGALANYA."
You Might Also Like: Interpretasi Mimpi Menangkap Burung