Wajib Baca! Ia Menyebutku Dalam Podcast, Tapi Tak Menyebut Namaku



## Ia Menyebutku Dalam Podcast, Tapi Tak Menyebut Namaku Hujan Seoul menyisakan genangan di trotoar, memantulkan neon kota yang berdenyut. Sama seperti hatiku. Berdenyut tak karuan sejak mendengar suaranya. Di podcast itu. Podcast *miliknya*. Aroma kopi memenuhi apartemen kecilku, pahitnya menandingi rasa kehilangan yang mencengkeram. Di layar ponsel, notifikasi berkedip. Bukan darinya. Bukan lagi. Pesan terakhir kami terhenti di tengah kalimat, sebuah percakapan yang terputus seperti mimpi buruk yang enggan berlalu. Dulu, dia adalah *matahari*ku. Cahayanya menghangatkan hari-hariku yang kelabu. Kami bertemu di sebuah kafe kecil, aroma kopi menjadi saksi bisu percakapan-percakapan panjang tentang mimpi, tentang hidup, tentang... *cinta*. Cinta yang kurasa hanya ilusi, fatamorgana di tengah gurun kesepian. Lalu podcast itu lahir. "Renungan Senja," judulnya. Ia bercerita tentang banyak hal. Tentang kota, tentang mimpi, tentang kehilangan. Dan terkadang, ia bercerita tentang *aku*. Tentang seorang wanita yang ia temui di sebuah kafe kecil. Tentang tawanya yang menular, tentang matanya yang menyimpan lautan rahasia. Tapi ia tak pernah menyebut namaku. ***Kenapa?*** Setiap episode adalah cambuk. Setiap kalimat adalah pisau yang mengiris luka lama. Aku mendengarkan setiap kata, mencari petunjuk, mencari jawaban. Mencari diriku di antara metafora dan personifikasi. Aku menyadari, aku hanyalah *inspirasi*. Muse yang tak bernama. Sumber inspirasi tanpa identitas. Dan itu... sakit. Lebih sakit dari yang kubayangkan. Bertahun-tahun berlalu. Aku membangun benteng dari kesibukan, dari pekerjaan, dari teman-teman. Tapi bayangannya selalu ada. Hantu masa lalu yang enggan pergi. Suatu malam, aku menemukan sebuah folder di laptopku. Folder bernama "Renungan Senja". Di dalamnya, tersimpan draft naskah-naskah podcastnya. Di salah satu naskah yang belum pernah disiarkan, aku menemukan jawabannya. *“... Aku tak bisa menyebut namanya. Karena jika aku menyebut namanya, maka seluruh dunia akan tahu rahasia ini. Rahasia bahwa ia adalah satu-satunya alasan aku bernapas. Bahwa ia adalah satu-satunya alasan aku menulis. Bahwa ia adalah satu-satunya alasanku... takut kehilangan.”* Di baris terakhir, tertera sebuah nama. Nama orang lain. Orang yang sangat berarti baginya. *Orang yang BUKAN aku.* Malam itu, aku menangis. Bukan karena sedih. Tapi karena lega. Karena akhirnya aku tahu. Aku hanya bagian dari ceritanya. Bukan pemeran utama. Keesokan harinya, aku merekam sebuah podcast. Judulnya: "Balasan Senja". Aku bercerita tentang seorang pria yang menciptakan dunia indah dengan kata-kata. Tentang seorang pria yang tak berani menyebut nama seseorang yang ia cintai. Tentang seorang pria yang memilih untuk bersembunyi di balik metafora. Di akhir podcast, aku mengucapkan satu kalimat. Satu kalimat yang kutujukan langsung padanya. “Terima kasih sudah memberiku inspirasi untuk *menemukan diriku sendiri*.” Kemudian, aku mematikan mikrofon. Beberapa minggu kemudian, aku menerima pesan. Pesan singkat. Dari nomor yang tidak kukenal. "Aku mendengarnya." Aku membalas. Satu kata. "Bagus." Lalu aku memblokirnya. Aku menghapus nomornya. Aku menghapus semua foto kami. Aku menghapus semua pesan kami. Aku menghapus "Renungan Senja" dari playlistku. Aku membeli tiket pesawat. Ke tempat yang jauh. Ke tempat di mana aku bisa memulai hidup baru. Di bandara, aku tersenyum. Senyum tulus. Senyum yang lama tak kurasakan. Saat pesawat lepas landas, aku menatap kota Seoul yang mengecil di bawah sana. Sesuatu telah berakhir. Sesuatu... telah dimulai. *Dan ia akan terus bertanya-tanya, apakah aku menyesal.*
You Might Also Like: Rahasia Dibalik Arti Mimpi Digigit

Post a Comment

Previous Post Next Post