**Kau Menatapku dan Dunia Mulai Retak di Antara Kita** Daun-daun *maple* berguguran di Taman Langit, mewarnai musim gugur di Beijing dengan semburat merah dan oranye. Di sanalah, aku melihatmu. Kau berdiri di bawah pohon *sakura* yang—anehnya—sedang berbunga di musim gugur. Matamu, sekelam langit malam, menatapku. Dan dunia mulai retak. Bukan retak yang keras dan menghancurkan, melainkan retak halus, seperti porselen kuno yang rapuh. Getarannya terasa sampai ke sumsum tulangku. Seolah-olah seratus tahun tergulung kembali dalam satu tatapan. Namaku Li Wei. Hidupku tenang, damai, mungkin terlalu damai. Aku seorang pelukis, mengabadikan keindahan dunia di atas kanvas. Tapi sejak tatapan itu, kedamaianku hancur. Bayangan-bayangan masa lalu menghantuiku. Mimpi-mimpi tentang istana megah, peperangan berdarah, dan janji yang dilanggar. Kau adalah Zhang Ming, pewaris tunggal Grup Zhang, salah satu konglomerat terbesar di Cina. Dingin, berwibawa, dan misterius. Orang-orang berbisik tentang ketegasanmu dalam bisnis, tentang tatapanmu yang bisa membekukan jiwa. Tapi di matamu, aku melihat kesedihan yang sama, luka yang sama, dengan yang kurasakan. Kita bertemu lagi, di pesta amal yang diadakan oleh keluargamu. Kau mendekatiku, suaramu rendah dan serak, "Li Wei...nama yang indah. Seperti *bunga plum* yang mekar di tengah salju." Kata-kata itu… rasanya *familiar*, sangat familiar. Bunga plum… *meihua*… adalah nama panggilanku dulu. Dulu, seratus tahun yang lalu, ketika aku adalah Putri Huan, putri kesayangan Kaisar, dan kau adalah Jenderal Zhang, pelindung kerajaan. Dosa kita adalah cinta. Janji kita adalah mati bersama. Tapi takdir punya rencana lain. Kita dikhianati, dijebak, dan dipisahkan oleh api dan pedang. Aku menyaksikan kau dieksekusi di depan mataku, bersumpah akan membalas dendam di kehidupan selanjutnya. Dan kini, di kehidupan ini, aku bertemu denganmu lagi. Semakin aku dekat denganmu, semakin jelas bayangan masa lalu. Aku melihat pengkhianatan, kebohongan, dan intrik yang merenggut nyawa kita. Aku melihat *Ibu Suri*, bibiku sendiri, dalang di balik semuanya. Dia menginginkan takhta, dan cinta kita menjadi penghalang. Kau tidak ingat apa-apa. Kau hanya merasakan *tarikan* yang kuat kepadaku, sebuah *deja vu* yang aneh setiap kali kita bertemu. Aku bisa saja membalas dendam. Aku bisa membongkar kejahatan keluargamu, menghancurkan reputasimu, dan membuatmu menderita seperti yang kulakukan dulu. Tapi… aku tidak melakukannya. Aku memilih keheningan. Aku memilih pengampunan. Bukan karena aku lemah, melainkan karena aku tahu bahwa dendam hanya akan melahirkan dendam. Lingkaran setan ini harus dihentikan. Aku menghadap Ibu Suri—yang kini telah bereinkarnasi menjadi nenekmu yang renta—dan menatap matanya. Tidak ada kemarahan, tidak ada kebencian, hanya kesedihan yang mendalam. "Kau menang," bisikku. "Dulu. Tapi di kehidupan ini, aku membebaskanmu. Aku membebaskan kita semua." Aku meninggalkanmu, Zhang Ming. Aku meninggalkan Beijing. Aku pergi ke tempat di mana bunga-bunga sakura selalu mekar, di mana aku bisa melukis tanpa bayang-bayang masa lalu. Kau tidak akan pernah tahu kebenaran. Kau tidak akan pernah tahu betapa besarnya pengorbananku. Tapi mungkin, suatu hari nanti, dalam mimpi… kau akan mendengar bisikan. Bisikan dari kehidupan sebelumnya. *"...Ingatlah janji kita, Jenderal Zhang... kita akan bertemu lagi... di bawah bunga-bunga meihua..."*
You Might Also Like: Tafsir Masuk Rumah Siput Sawah Simak
