Endingnya Gini! Aku Mencintaimu Sampai Nama Kita Terhapus Dari Ingatan Langit



Baiklah, ini dia kisah puitis bergaya dracin klasik, seperti permintaanmu: **Di bawah Lembayung Senja yang Terlupa** Kabut lavender merayap di antara **Puncak Seribu Mimpi**, menyelimuti sebuah taman yang hanya ada di antara tidur dan jaga. Di sanalah, aku melihatnya. Dia, seorang dewi lukisan. Gaunnya selembut kelopak *Peony Pagi*, matanya sedalam **Danau Bulan Sabit**. Setiap langkahnya adalah melodi yang tak pernah tertulis, setiap senyumnya adalah fajar yang merobek kegelapan hatiku. Aku, hanyalah bayangan yang berani bermimpi. Seorang pengelana waktu yang tersesat di dimensi antara kenangan dan harapan. Aku datang padanya, terpesona oleh aura yang memancar dari jiwanya yang murni. "Siapakah kau, pengembara?" tanyanya, suaranya seperti gemericik air terjun di *Hutan Kenangan Abadi*. "Aku... aku mencintaimu," bisikku, kata-kata itu bergetar seperti daun maple yang diterpa angin musim gugur. Dia tertawa, tawa yang membangkitkan melodi terlarang di dalam diriku. "Cinta di taman ini adalah ilusi. Di sini, waktu tak berarti, nama-nama memudar, dan hati hanyalah gema dari masa lalu yang *MUNGKIN* tak pernah ada." Namun, aku tak peduli. Aku mencintainya seperti langit mencintai bintang, seperti sungai mencintai laut, seperti mimpi mencintai tidur. Aku mencintainya sampai nama kita terhapus dari ingatan langit. Kami menari di bawah *pohon Wisteria yang abadi*, tertawa di tengah air mancur kristal yang memancarkan cahaya pelangi. Setiap hari terasa seperti abad, setiap detik terasa seperti keabadian. Kami berjanji untuk selamanya, mengukir nama kami di bebatuan taman yang abadi. Lalu, suatu hari, kabut mulai menebal. Taman mulai memudar. "Waktunya telah tiba," ucapnya, matanya berkaca-kaca. "Kau harus pergi." "Tidak! Aku tidak bisa meninggalkanmu!" teriakku, menggenggam tangannya erat. Dia melepaskan genggamanku perlahan. "Kau tidak mengerti. Aku adalah **lukisan**, diciptakan olehmu dari kerinduanmu yang tak terucapkan. Taman ini adalah mimpi. Aku ada karena kau merindukanku. Jika kau melupakan kerinduanmu, aku akan lenyap." Dan dia mulai memudar, seperti cat air yang larut dalam hujan. ***Momen Pengungkapan:*** Sebuah gulungan perkamen tua tergeletak di dekat air mancur. Dengan tangan gemetar, aku membukanya. Di sana, terlukis potret diriku, memegang kuas di tangan. Di sampingnya, sebuah kalimat tertulis dengan tinta emas: **"Aku menciptakanmu, karena aku tak mampu memilikimu di dunia nyata."** Lukisan itu, taman itu, dirinya... *SEMUA* adalah proyeksi kerinduanku. Aku adalah pelukis dan dia adalah *MIMPIKU*. Dia telah pergi, kembali menjadi tinta dan kanvas. Taman itu memudar, hanya menyisakan kabut lavender dan *HATI* yang hancur. Aku tersadar. Cinta kami memang hanya ada di dimensi mimpi, di dunia yang diciptakan oleh hati yang *TERLALU* merindu. ***Masa lalu membisik: "Apakah kau masih ingat nama kita?"***
You Might Also Like: Croatian Sports Centre To Host China Pr

Post a Comment

Previous Post Next Post