Aku Menulis Janji Di Udara, Tapi Angin Membawanya Ke Surga



**Aku Menulis Janji di Udara, Tapi Angin Membawanya ke Surga** Hujan jatuh di atas makam marmer, setiap tetes adalah air mata yang tak terucap. Dunia ini abu-abu, seperti lukisan yang belum selesai. Di sinilah aku berdiri, roh yang terperangkap di antara dua dunia. Udara dingin merasuk, bukan hanya karena hujan, tapi karena kekosongan yang tak bisa diisi. Dulu, aku adalah Lin Wei, seorang guru kaligrafi yang mencintai senja dan aroma teh melati. Sekarang, aku hanya bayangan, menolak untuk pergi, **terikat** oleh sesuatu yang belum selesai. Bayangan pepohonan menari liar di batu nisan. Angin berbisik, membawa nama-nama yang terlupakan. Aku mencari di antara nisan-nisan itu, bukan nama yang tertulis, melainkan **KATA-KATA** yang tak terucap. Kebenaran yang terkubur bersama jasadku. Aku meninggal dalam kecelakaan, sebuah truk menabrak mobilku di malam yang gelap. Begitu cepat, begitu tiba-tiba. Tidak ada waktu untuk mengucapkan selamat tinggal, tidak ada kesempatan untuk menjelaskan... semuanya. Kekasihku, Zhao Ming, berdiri di dekat pohon sakura yang meranggas. Punggungnya tegap, namun bahunya bergetar. Aku ingin menyentuhnya, menghapus air matanya, tapi tanganku hanya menembus dirinya. Aku roh, bayangan, ilusi. Aku bisa melihatnya, mendengarnya, merasakan kesedihannya, tapi tak bisa melakukan apa pun. Aku ingin mengatakan *“Maafkan aku, Ming. Maafkan aku karena meninggalkanmu seperti ini.”* Tapi kata-kataku hanya hembusan angin yang tak terdengar. Aku kembali bukan untuk balas dendam. Tidak. Aku tidak membenci sopir truk itu. Aku tidak marah pada takdir. Aku kembali untuk sebuah janji. Sebuah janji yang kutulis di udara, berharap angin akan membawanya ke surga. Sebuah janji tentang surat wasiat yang kusembunyikan di balik lukisan naga di ruang kerjaku. Surat wasiat yang akan memberikan Ming hak atas seluruh hartaku. Surat wasiat yang akan melindunginya dari cengkeraman bibiku yang serakah. Hari-hari berlalu seperti mimpi buruk yang tak berkesudahan. Aku mengikuti Ming kemanapun dia pergi. Aku melihatnya berjuang, diganggu oleh bibiku, kebingungan dan kehilangan. Rasa bersalah mencabik hatiku yang tak berwujud. Aku berusaha keras untuk berkomunikasi, untuk memberikan petunjuk, tetapi percuma. Aku hanya bisa mengamati, berharap, dan berdoa. Suatu malam, Ming kembali ke rumah kami yang sepi. Dia berdiri di depan lukisan naga, menatapnya dengan tatapan kosong. Ada sesuatu yang berbeda di matanya. Seolah ada **percikan** harapan. Tiba-tiba, dia menyentuh bingkai lukisan itu. Kemudian, dia menekannya. Sebuah celah terbuka, dan sebuah amplop terjatuh. Aku tersenyum. Akhirnya. Ming membuka amplop itu dengan tangan gemetar. Dia membaca surat wasiat itu dengan air mata berlinang. Kebenaran terungkap. Bibiku datang dan mengamuk, tetapi sudah terlambat. Ming memiliki bukti. Dia menang. Saat itu, aku merasakan beban yang selama ini menindihku terangkat. Aku bisa melihat cahaya, hangat dan menyambut. Tugasku selesai. Janjiku ditepati. Aku bisa pergi dengan tenang. Aku menatap Ming untuk terakhir kalinya. Dia tersenyum, bukan senyum sedih yang selama ini kutemui, tetapi senyum **LEGA**. Senyum yang penuh dengan kedamaian. Dia tahu, di suatu tempat, aku bersamanya. Aku berbalik, berjalan menuju cahaya. Angin berbisik, membawa serta kata-kataku yang tak terucap. Ia akhirnya tersenyum, seperti bintang jatuh yang menghilang di balik awan…
You Might Also Like: Reality Vs Fantasy Chart Graphic

Post a Comment

Previous Post Next Post